Jilbab Nisa

Kika punya adik! Ia dan abangnya, Fandy, senang bukan kepalang. Setiap bangun tidur dan pulang sekolah, mereka berdua pasti langsung bermain dengan adiknya yang masih bayi. Ibu dan Ayah memberinya nama Chisa, tapi bayi perempuan yang putih dan gemuk itu mereka panggil Si Bungsu.
Tante Nia, adik ayah Kika, baru saja pulang dari melihat Chisa, ketika Fandy datang. Ia baru pulang dari sekolah, sedangkan Kika langsung pergi les tambahan. Maklum, Kika sudah kelas 6, sebentar lagi menghadapi Ujian Nasional. Sedangkan Fandy duduk di kelas 2 SMP.
“Wah, Si Bungsu dapet guling baru, ya?” goda Fandy, melihat sepasang guling putih polos di sebelah adiknya.
“Itu dari Tante Nia, Bang.” Ibu bersuara, seolah-olah itu jawaban Chisa.
“Kok warnanya putih polos begini, Bu?” tanya Fandy heran, karena ia biasa melihat guling kecil yang berwarna-warni dengan berbagai motif lucu.
“Kata Tante, itu untuk mengukur kadar kotornya guling. Ada banyak sarung di kotak di sebelahmu itu.” Ibu mendekat pada kotak yang dimaksud, lalu mengeluarkan satu sarung bantal. “Nah, lucu kan!” tunjuk Ibu pada Fandy.
“Kain ini bahannya tipis, kalau terkena debu atau kotoran lain akan tembus ke dalam dan mengenai kain yang itu.” Ibu menunjuk guling di tangan Fandy. “Kalau sudah terlihat noda, berarti sarung luar harus diganti.”
Fandy manggut-manggut. Tapi ia bukan sedang takjub dengan penjelasan Ibu. Sebuah ide melintas di benaknya.
Ketika Ibu ke dapur, Fandy mengambil sepasang guling baru itu. Satu ia lempar ke kamar Ibu yang pintunya sedikit terbuka, satu lagi Fandy bawa ke kamarnya sendiri.
***
Fandy cekikikan sendiri, di tangannya guling Chisa berubah jadi boneka yang menyeramkan. Sejak pulang sekolah, ia asyik menggambari guling itu. Ada mata bulat dengan lingkaran hitam yang tebal, taring panjang berwarna merah, dan gambar menyerupai luka di bagian tengah guling. Keseluruhannya mirip seperti gambaran pocong pada film-film hantu Indonesia!
Setelah menyelesaikan ide horornya, Fandy menyelinap ke kamar Kika. Boneka hantu ia gantung di belakang pintu, diikat tali dan direkat lakban ke plafon. Setelah misi jahilnya usai, Fandy mengendap-endap keluar kamar.
***
“Bungsu sayang…!!” Kika berteriak riang setelah mengucap salam. Gegas ia ke ruang tengah, menemui Chisa.
Walau sering dilarang Ibu, Kika dan Fandy tetap saja begitu, belum cuci tangan sudah mengajak adiknya bermain. Tapi Chisa yang lucu juga dengan riang meladeni kakak dan abangnya, jadilah mereka makin semangat bermain.
“Kika mandi dulu, hari sudah sore,” tegur Ibu.
Kika tak menjawab, ia masih asyik bermain kitik-kitik dengan Chisa. Di kamarnya, Fandy sedang menunggu-nunggu kejadian seru.
Sepuluh menit kemudian, Ibu memanggil lagi. Kika sedang bermain ciluk-ba, membuat Chisa tergelak lucu.
Fandy tak sabar lagi, ia segera keluar menuju ruang tengah. “Bungsuuu….” Ia mengambil alih perhatian Chisa.
Chisa menoleh ke arah suara.
“Mandi sana! Nanti Ustadz Ali datang,” seru Fandy pada Kika. Ustadz Ali adalah guru muda yang mengajarkan Alquran tiga kali seminggu di rumah mereka.
Dengan malas Kika beranjak dari ruang tengah, menuju kamarnya.
Kemudian, “Ibuu…!!” teriakan Kika terdengar hingga keluar rumah.
Chisa kaget, tapi Fandy terbahak-bahak.
“Kika kenapa?” Ibu tergopoh-gopoh mendatangi Kika di kamarnya.
Tapi Kika sudah hampir mencapai dapur, ia berlari sekuat tenaga. “Ada hantu di kamar Kika,” adunya sambil menangis.
Ibu memeluk Kika yang ketakutan. Dari dapur, terlihat Fandy yang masih terbahak di ruang tengah. Chisa nampak bingung.
“Kika tunggu di sini ya, biar Ibu periksa kamarmu.” Ibu melepas pelukannya.
Kika mengangguk, dan tetap berada di dapur sambil menyeka airmatanya.
Pintu kamar Kika terbuka, Ibu menemukan guling Chisa yang tergantung di dekat pintu, seram, dan menggantung seukuran tinggi Kika. Ibu bisa menerka, boneka mengerikan itu berada tepat di depan wajah Kika ketika ia membuka pintu. Dan Ibu tahu siapa pelakunya.
Boneka hantu alias guling baru Chisa diturunkan Ibu, lengkap bersama tali dan lakbannya. Benda-benda itu Ibu bereskan, tapi… tiba-tiba Ibu punya ide!
***
Gimana, Bu?” tanya Kika, masih ketakutan.
Ibu menggeleng. “Nggak ada hantu kok,” jawabnya. “Kika jangan khawatir, kalau kita berani, yang seperti itu tidak akan bisa mengganggu kita.”
Kika menggigit bibir, ia masih belum yakin.
“Kalau masih takut, nanti malam tidur di kamar Ibu saja. Habis mandi ambil pakaianmu yang masih di keranjang luar.”
Kika setuju, ia tidak ingin masuk ke kamarnya dulu.
Fandy berhenti tertawa. Ia penasaran, kenapa Ibu tidak membawa boneka buatannya keluar. Tapi sudahlah, pikir Fandy. Ia menyiapkan diri untuk bertemu Ustadz Ali.
***
Sudah jam sembilan malam. Ayah belum pulang, Fandy menonton bola sendirian. Kika dan Ibu tidak suka bola.
“Gak seru, ah,” gumam Fandy.
Tadi masih terdengar tawa riang Kika dan Chisa. Sekarang hening. Mungkin semua orang sudah tidur, kecuali Fandy.
TV dimatikan, Fandy melangkah malas ke kamarnya. Membaca buku mungkin lebih asyik, pikirnya, daripada nonton bola sendirian.
Fandy mengambil satu majalah yang belum semua rubrik selesai ia baca. Begitu naik ke tempat tidur, ia terkejut bukan main. Hampir saja Fandy terlonjak dan berteriak.
Di atas bantalnya, tergeletak guling Chisa yang tadi siang ia ubah menjadi boneka hantu. Buru-buru Fandy keluar, menuju kamar Ibu.
“Ibu.” Fandy mengetuk pintu kamar Ibu.
Sebentar saja pintu terbuka.
“Ibu yang letakkan guling Bungsu di tempat tidur Fandy?” tanya Fandy langsung, begitu melihat wajah Ibu.
Ibu memicing. “Guling?”
“Yang… ng… bergambar seram itu.” Fandy terbata-bata.
Ibu mengangkat bahu. “Kalau kamu ingin tidur di sini juga, ya silakan. Ayah malam ini nggak pulang, kantornya lembur.” Ibu berlalu ke tempat tidur, seperti orang yang sedang ngantuk berat.
Tiba-tiba bulu kuduk Fandy terasa berdiri. Ia bergidik, lalu segera masuk ke kamar Ibu dan menutup pintu.
***
Ayah pulang subuh. Tidur di ruang tamu agar tak mengganggu anak-anaknya yang sedang pulas. Ketika waktunya sarapan, seisi rumah sudah dalam keadaan segar.
“Yah, Ibu punya cerita,” kata Ibu setelah semuanya siap bersantap.
Ayah mendengarkan, Fandy dan Kika pun turut menyimak. Chisa sendirian di kotak bayi yang didorong Ibu ke ruang makan.
“Kemarin Kika melihat…”
“Hantu!” Kika memotong ucapan Ibu. “Seram sekali, Yah. Ia terbang di pintu….”
Ayah kaget, tapi Fandy tertawa.
Trus tadi malam, hantunya pindah ke kamar Fandy,” lanjut Ibu.
Fandy terdiam.
“Coba kamu lihat ke kamar, masih ada nggak?” perintah Ibu pada Fandy.
Fandy langsung menggeleng, ngeri.
“Itu kan buatan Fandy sendiri, kok takut sih!”
“O, Ibu tahu, ya?” Fandy tersenyum malu.
Ayah dan Kika nampak bingung.
“Kemarin, Chisa dapat guling baru dari Tante Nia,” Ibu menjelaskan. “Oleh Fandy, guling itu dibuat jadi boneka hantu, lalu digantung di kamar Kika.”
“Ih, jahat!” Kika mencubit pelan lengan abangnya. Fandy tak membalas.
“Setelah Ibu turunkan, guling itu Ibu letakkan di atas tempat tidur Fandy, biar dia tahu rasanya ketakutan.”
“Berarti Ibu bohong tadi malam, Ibu bilang bukan Ibu yang meletakkannya.” Fandy protes.
“Kapan Ibu bilang bukan Ibu yang meletakkan?”
Fandy berpikir. “Ibu nggak jawab iya atau tidak.”
“Itu namanya siasat,” kata Ayah. “Biar kamu nggak bercanda dengan cara horor begitu!”
Ibu tertawa. Fandy tersenyum malu lagi.
“Rasain!” Kika mendelik.
Si bungsu Chisa ngomel sendiri di kotaknya.


0 komentar: