naskah resensi PDdBS yang menang (pelajar)


LOMBA MENULIS RESENSI PANGERAN DENGAN DUA BEKAS SUJUD

Judul buku      :           Pangeran dengan Dua Bekas Sujud
Pengarang       :           Syarifah Lestari
Penerbit           :           Bandung: MASTER Publishing
Editor              :           Ummu’Aifah
Layout             :           Roni Indra S.Psi
Tahun terbit     :           2012
Cetakan           :           1 (pertama)
Tebal buku      :           103  halaman

Apa yang tercenung dalam benak sosok Syarifah Lestari saat menulis cerpen-cerpennya?

Indonesia suka hal-hal aneh. Lukisan wajah setan dibalik pembesar. Partai dengan sampah. Topeng ustadz dan bujang langgar. Bom buku. Dosa. Kata hati banci. Pangeran buruk rupa. Jihad. Suami yang tak bertanggungjawab. Konversi gas.

Saya merasa tergelitik saat membaca cerpen-cerpen yang tersaji dalam antologi cerpen Pangeran dengan Dua Bekas Sujud ini. Syarifah Lestari membuktikan bahwa manajemen kosakata yang baik, sekalipun berupa kalimat-kalimat sederhana, ternyata mampu merangkai kisah yang menggugah. Cerpen diramu dengan ‘rasa rakyat’, sehingga bisa dikunyah dan dicerna dengan mudah. Sekalipun demikian, nilai esensial yang terkandung dalam cerita tak lantas luntur begitu saja. Sebaliknya, pemilihan kata yang lugas justru mempertajam penokohan dan konflik antar pelaku, menghidupkan jalan cerita, dan memberi ending tak terduga.

Bau feminisme juga menguar dari tulisan tangan beliau. Contohnya dalam cerpen Perempuan Bernama Sri, 100 Hari Kematian Yamin, dan Merantau. Kecaman terhadap perlakuan pria (dalam hal ini suami) yang  tidak bertanggungjawab dalam hal memberi nafkah mewarnai konflik cerita. Di lain pihak, Syarifah Lestari juga menggambarkan kelemahan kaum wanita, yang terikat oleh pengabdian utuh kepada suami. Sekalipun demikian, ada sedikit kegagalan dalam menginterpretasikan “pengabdian” disini. Ganjil rasanya, setelah sedemikian merakyat-nya karya beliau, beliau lupa mengangkat trend ‘kawin-cerai’ tengah marak belakangan ini. Bukan berarti saya mendorong beliau untuk mengikuti arus menulis kisah tentang perceraian, namun ketika cerita pendek dikumpulkan menjadi satu antologi, pembaca dapat dengan mudah menemukan adanya pola yang sama pada tiga cerpen diatas. Sehingga tulisan terasa stagnan, dengan pola perilaku yang itu-itu saja. Padahal saya yakin Syarifah Lestari mampu membentuk detail sebuah perceraian sebaik detail cerpen Air Hitam dan Lukisan Setan (yang berlatarbelakang sosial-politik).

Tetapi secara keseluruhan, kisah-kisah yang diramu oleh Syarifah Lestari cukup membuat pembaca tercenung, bahkan berdecak kagum, sehingga bisa dikatakan bacaan wajib, terutama bagi pembaca yang bosan dengan kisah-kisah sebatas “he loves me, he loves me not”. Cerpen yang dekat dengan kehidupan rakyat ini akan menggugah dan menyadarkan kita untuk lebih membuka mata, untuk melihat dan mendengar dengan lebih peka.

0 komentar: