naskah pemenang resensi PDDBS (mahasiswa)


Cambuk Halus Untuk Pak SBY!

Jika Iwan Fals bersenandung lewar syair-syairnya, maka Syarifah Lestari merefleksi setiap kejadian di negeri ini lewat cerpen-cerpennya. Iwan Fals dan Syarifah Lestari pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama, yakni mengingatkan kepada pemerintah atas semua kejadian yang telah menimpa masyarakat bangsa ini.

                  Dalam buku antologi cerpen yang berjudul “Pangeran Dengan Dua Bekas Sujud” ini, penulis mengingatkan kepada para pembaca bahwa masih banyak persoalan di negeri ini yang belum terselesaikan. Dengan judul-judul cerpen yang sederhana dan penggunaan bahasa yang mudah dicerna, namun substansi dari tulisan itu sangat luar biasa. Pembaca dibuat berdecak kagum setelah merampungkan bacaan. Ide-ide sederhana telah dikemas secara apik hingga memunculkan makna yang sangat istimewa.

                  Peresensi berani menjamin bahwa sebentar lagi Syarifah Lestari (jika tetap konsisten menulis cerpen), bukan tidak mungkin, buku-bukunya akan berjejer dengan karya-karya Helvy Tiana Rossa. Cerpen-cerpen kumpulan Syarifah ini, bukan cerpen-cerpen hasil bongkaran dari diary nya yang usang tapi karya-karya ini telah menemebus harian-harian lokal dan nasional ternama dan terbesar (Contoh: Harian Jambi Independent dan Sabili).

                  Ada baiknya, pemimpin negeri ini tidak hanya melulu membaca koran yang menegangkan. Untuk mendapatkan kabar, cerpen-cerpen dalam buku ini bisa menjadi alternatif. Selain mendapatkan segudang info, cerpen-cerpen ini juga menyentil nurani pembaca, bahwa sebenarnya negeri ini sangat lucu. Sedikit imbuhan tertawa, mungkin dibolehkan. Namun, sumbangsih untuk memberikan solusi sangat diharapkan.

                  Antologi yang terdiri dari 103 halaman ini, menurut peresensi, ada cerita-cerita yang kurang masuk akal dan tidak mudah di mengerti. Sebut saja, cerpen yang berjudul ustadz. Saat sang ustadz diberi pilihan untuk menikahi perempuan “cacat”, tidak tegas dijelaskan disana bahwa apakah ia menerima atau menolak perempuan itu. Akhir cerita hanya dijelaskan bahwa si ustadz menikah, entah dengan siapa.

Akhirnya, jika memang kenyataan yang terulas dalam cerpen-cerpen ini bukan masalah besar bagi presiden kita, semoga makna dalam beberapa cerpen ini, dapat menjadi cambuk halus untuk pak SBY!. 

0 komentar: