0 komentar

naskah pemenang resensi PDDBS (mahasiswa)


Cambuk Halus Untuk Pak SBY!

Jika Iwan Fals bersenandung lewar syair-syairnya, maka Syarifah Lestari merefleksi setiap kejadian di negeri ini lewat cerpen-cerpennya. Iwan Fals dan Syarifah Lestari pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama, yakni mengingatkan kepada pemerintah atas semua kejadian yang telah menimpa masyarakat bangsa ini.

                  Dalam buku antologi cerpen yang berjudul “Pangeran Dengan Dua Bekas Sujud” ini, penulis mengingatkan kepada para pembaca bahwa masih banyak persoalan di negeri ini yang belum terselesaikan. Dengan judul-judul cerpen yang sederhana dan penggunaan bahasa yang mudah dicerna, namun substansi dari tulisan itu sangat luar biasa. Pembaca dibuat berdecak kagum setelah merampungkan bacaan. Ide-ide sederhana telah dikemas secara apik hingga memunculkan makna yang sangat istimewa.

                  Peresensi berani menjamin bahwa sebentar lagi Syarifah Lestari (jika tetap konsisten menulis cerpen), bukan tidak mungkin, buku-bukunya akan berjejer dengan karya-karya Helvy Tiana Rossa. Cerpen-cerpen kumpulan Syarifah ini, bukan cerpen-cerpen hasil bongkaran dari diary nya yang usang tapi karya-karya ini telah menemebus harian-harian lokal dan nasional ternama dan terbesar (Contoh: Harian Jambi Independent dan Sabili).

                  Ada baiknya, pemimpin negeri ini tidak hanya melulu membaca koran yang menegangkan. Untuk mendapatkan kabar, cerpen-cerpen dalam buku ini bisa menjadi alternatif. Selain mendapatkan segudang info, cerpen-cerpen ini juga menyentil nurani pembaca, bahwa sebenarnya negeri ini sangat lucu. Sedikit imbuhan tertawa, mungkin dibolehkan. Namun, sumbangsih untuk memberikan solusi sangat diharapkan.

                  Antologi yang terdiri dari 103 halaman ini, menurut peresensi, ada cerita-cerita yang kurang masuk akal dan tidak mudah di mengerti. Sebut saja, cerpen yang berjudul ustadz. Saat sang ustadz diberi pilihan untuk menikahi perempuan “cacat”, tidak tegas dijelaskan disana bahwa apakah ia menerima atau menolak perempuan itu. Akhir cerita hanya dijelaskan bahwa si ustadz menikah, entah dengan siapa.

Akhirnya, jika memang kenyataan yang terulas dalam cerpen-cerpen ini bukan masalah besar bagi presiden kita, semoga makna dalam beberapa cerpen ini, dapat menjadi cambuk halus untuk pak SBY!. 

0 komentar

naskah resensi PDdBS yang menang (pelajar)


LOMBA MENULIS RESENSI PANGERAN DENGAN DUA BEKAS SUJUD

Judul buku      :           Pangeran dengan Dua Bekas Sujud
Pengarang       :           Syarifah Lestari
Penerbit           :           Bandung: MASTER Publishing
Editor              :           Ummu’Aifah
Layout             :           Roni Indra S.Psi
Tahun terbit     :           2012
Cetakan           :           1 (pertama)
Tebal buku      :           103  halaman

Apa yang tercenung dalam benak sosok Syarifah Lestari saat menulis cerpen-cerpennya?

Indonesia suka hal-hal aneh. Lukisan wajah setan dibalik pembesar. Partai dengan sampah. Topeng ustadz dan bujang langgar. Bom buku. Dosa. Kata hati banci. Pangeran buruk rupa. Jihad. Suami yang tak bertanggungjawab. Konversi gas.

Saya merasa tergelitik saat membaca cerpen-cerpen yang tersaji dalam antologi cerpen Pangeran dengan Dua Bekas Sujud ini. Syarifah Lestari membuktikan bahwa manajemen kosakata yang baik, sekalipun berupa kalimat-kalimat sederhana, ternyata mampu merangkai kisah yang menggugah. Cerpen diramu dengan ‘rasa rakyat’, sehingga bisa dikunyah dan dicerna dengan mudah. Sekalipun demikian, nilai esensial yang terkandung dalam cerita tak lantas luntur begitu saja. Sebaliknya, pemilihan kata yang lugas justru mempertajam penokohan dan konflik antar pelaku, menghidupkan jalan cerita, dan memberi ending tak terduga.

Bau feminisme juga menguar dari tulisan tangan beliau. Contohnya dalam cerpen Perempuan Bernama Sri, 100 Hari Kematian Yamin, dan Merantau. Kecaman terhadap perlakuan pria (dalam hal ini suami) yang  tidak bertanggungjawab dalam hal memberi nafkah mewarnai konflik cerita. Di lain pihak, Syarifah Lestari juga menggambarkan kelemahan kaum wanita, yang terikat oleh pengabdian utuh kepada suami. Sekalipun demikian, ada sedikit kegagalan dalam menginterpretasikan “pengabdian” disini. Ganjil rasanya, setelah sedemikian merakyat-nya karya beliau, beliau lupa mengangkat trend ‘kawin-cerai’ tengah marak belakangan ini. Bukan berarti saya mendorong beliau untuk mengikuti arus menulis kisah tentang perceraian, namun ketika cerita pendek dikumpulkan menjadi satu antologi, pembaca dapat dengan mudah menemukan adanya pola yang sama pada tiga cerpen diatas. Sehingga tulisan terasa stagnan, dengan pola perilaku yang itu-itu saja. Padahal saya yakin Syarifah Lestari mampu membentuk detail sebuah perceraian sebaik detail cerpen Air Hitam dan Lukisan Setan (yang berlatarbelakang sosial-politik).

Tetapi secara keseluruhan, kisah-kisah yang diramu oleh Syarifah Lestari cukup membuat pembaca tercenung, bahkan berdecak kagum, sehingga bisa dikatakan bacaan wajib, terutama bagi pembaca yang bosan dengan kisah-kisah sebatas “he loves me, he loves me not”. Cerpen yang dekat dengan kehidupan rakyat ini akan menggugah dan menyadarkan kita untuk lebih membuka mata, untuk melihat dan mendengar dengan lebih peka.

3 komentar

PEMENANG LOMBA RESENSI BUKU PANGERAN DENGAN DUA BEKAS SUJUD

hoyaa, yang pada nunggu info pemenang lomba resensi buku Pangeran dengan Dua Bekas Sujud. ini dia orangnya!

KATEGORI PELAJAR
Nama            : Monica Gabriella PS
Sekolah        : SMAN 5 Kota Jambi
Alamat            : Jl. Ir. H. Juanda blok P 19 Mayang Jambi

KATEGORI MAHASISWA
Nama        : Shirhi Athmainnah
Pekerjaan    : Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Alamat        : Desa Parean Girang, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu

selamat ya! hadiah bisa diambil di GERAI JAKOZ sei kambang hari RABU, 6 JUNI 2012. untuk yang di luar kota insyaallah akan dikirim via pos hari rabu itu.

yang belum menang jangan sedih, ayo ikut lomba lainnya! di mana?? tanya gugel, hehe..