cerpen lolos februari 2012

*PACARKU….BEDA!*
Oleh : Ana Bee

Rumah makan itu tidaklah ramai. Hanya beberapa meja yang terisi. Disudut ada sekelompok gadis berjilbab sedang makan sambil mengobrol. Di sudut yang lain sebuah keluarga, itu menurutku, ada seorang ayah, ibu dan 2 orang anak. Beberapa meja lain terisi hanya ada 2 orang saja. Aku mengambil meja kosong di lesehan. Anto mengikutiku. Dari masjid seberang rumah makan suara khatib shalat jum’at terdengar sedang memberikan khutbah.

Seorang pelayan menghampiri kami dan menyodorkan dua buah buku menu dan lembar pemesanan. Segera aku ambil dan mulai memilih. Perutku sudah keroncongan sejak tadi. Tak sempat sarapan dan sesiang ini jalan dari toko ke toko sangat melelahkan.

“Mau makan apa, Beib?” tanyaku pada Anto yang duduk disampingku. Anto membolak-balik buku menu. Akhirnya dia memilih ayam garang asam dan nasi bakar. Minumnya es lemon tea. Pilihan tepat, pikirku. Aku ngikut dia. Pelayan datang mengambil pesanan. Kuambil dua majalah di rak samping meja. Saat aku berbalik, kulihat gadis-gadis berjilbab itu memandang ke arah kami. Sebentar kemudian aku mendengar tawa mereka.

“Apa mereka sedang membicarakan aku?” pikirku. Sejak berpacaran dengan Anto aku selalu merasa tak nyaman jika ada yang memperhatikan kami. Kupikir mereka semua mempergunjingkan kami. Aku melihat ke arah Anto. Dia asyik merokok. Asapnya mengepul ke udara. “Beib, jangan merokok disini. Bikin penyakit saja.” Aku merengut. Kuletakkan majalah di depannya satu dan untukku satu.

“Pahit kalau ga ngrokok,” katanya. Tapi dimatikan juga rokok itu di asbak. Itu yang kusuka dari Anto. Kalau aku mulai merengut, dia langsung nurutin apa kataku. Tak mau memperpanjang urusan, apalagi sampai bertengkar. Dan satu lagi, Anto itu orangnya sabarrrr banget. Susah cari cowok kayak Anto.
Kulirik sekilas kelompok itu. Kelihatan sedang asyik dengan makanan dan obrolan mereka. Dalam hati aku membatin, “Ah mungkin bukan aku yang mereka bicarakan, perasaan saja.” Aku mulai membolak-balik majalah. Gossip artis korea dan gaya dandanan mereka di kupas habis di edisi kali ini. Cocok sekali dengan trend remaja masa kini.

Minuman datang, lalu disusul makanan. Ayam garang asam ditempat ini terkenal sangat enak. Rasanya asam-asam segar. Mereka memakai blimbing wuluh untuk mendapatkan rasa ini. Dari nasi bakar, pedasnya sangat terasa. Pokoknya mantep poll. Kami segera makan.

Blug! Sesuatu jatuh di meja kami. Tissue makan beberapa lembar yang diremas menjadi bola. Ada sebutir bakso didalamnya. Aku mencari orang yang menjatuhkan barang itu. Kulihat kelompok gadis berjilbab itu barusaja berlalu dari meja kami. Beberapa nampak terbungkuk sambil menutup mulutnya. Yang lain hanya senyum-senyum menahan tawa. Aku yakin merekalah yang sengaja melakukan itu. Di tissue itu ada tulisan dengan spidol merah “Pacarnya lagi haid ya hahaha.”

Gadis-gadis itu berdiri didekat kasir dan mereka semua memandang kearah kami. Menunggu reaksiku. Masih dengan senyum senyum mengejek di muka mereka. Darahku naik ke kepala. Hampir aku berdiri tapi tangan Anto menahan. “Tak usah!” katanya sambil menarikku kembali duduk. Mereka berlalu sambil tertawa-tawa. Huuuhhh, kalau mereka ada disini ingin ku remas-remas mereka seperti tissue ini. Iseng banget si.
“Gitu saja kok diladeni.” Anto mengomentari kemarahanku. “Biarkan saja.”

“Tapi harusnya mereka ga usah iseng kayak gitu. Suka ikut campur. Kayak mereka yang paling suci saja.” Aku masih saja mengomel. Anto mengibas-ibaskan tissue putih di depanku. “Time out ..time out. Lupakan saja lah. Habiskan makananmu.”

Selera makanku sudah pergi. Laparku sudah lenyap. Kuaduk-aduk nasi tanpa bermaksud memakannya. Pengin rasanya kulempar nasi ini kemuka mereka itu. Sok kali. Reseh. Huh! Anto menyorongkan minumannya padaku. “Untuk apa? Punyaku masih ada,” kataku. “Siapa tahu kau butuh lebih banyak air untuk mendinginkan hatimu. Asapnya dah keluar tu. Hehehe.” Anto tertawa.

“Apa si maksud mereka itu? Kampungan! Kalau berani langsung saja knapa?” aku masih mengomel.

“Mereka cuma anak-anak kurang kerjaan. Lagi bosan kali. Sudahlah.” Anto mencoba menenangkanku. Tapi aku sudah terlanjur panas. Sebel banget. “Tar besok lagi tak usah pergi pas jum’at gini, jadi ga ngundang orang buat iseng.” Anto menambahi.

“Lho emang kenapa? Ketahuan kalau kita beda, gitu? Emangnya kenapa kalau kita beda?” Aku nyerocos.

Kata-kata Anto makin membuatku panas. Aku merasa tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas.

Hubunganku dengan Anto masih dalam taraf pacaran yang normal. Kami hanya jalan atau makan bersama.

Tak ada yang aneh. Namanya juga saling cinta, tentu saja kami ingin selalu dekat. Namun kami tidak tinggal serumah, tidak pernah tidur bersama. Lalu mengapa mereka menganggu kami? Kami tak mengganggu siapapun.

“Sudahlah! Tak usah diteruskan. Tak enak, banyak orang.” Anto menghentikan bicaraku. Aku masih ingin bicara lebih banyak tapi kemudian aku sadar beberapa orang melihat kearah kami. Mungkin tadi bicaraku agak keras saking kesalnya. Acara makan hari itu benar-benar berantakan. Aku kesal sekali.
---000

Sampai dirumah kubanting tubuh di kursi depan TV. Saluran TV kuganti channel berulang-ulang tanpa ada satupun yang ingin kulihat. “Huuhhh! Jelek semua.” Kataku sambil memencet tombol remote. TV sekarang kalau isinya bukan sinetron atau acara musik, atau game yang tak ada satupun yang kusuka. Berita juga isinya bikin sedih, pertumpahan darah, anarki massa. Bosan ngelihatnya.

Set! Tara, adikku, merampas remote TV dari tanganku. “Apaan si, Ra? Aku mau nonton TV ni.” Kataku sambil berusaha merebut kembali remote itu dari tangan Tara. Tara bergerak cepat dan duduk di ujung kursi yang jauh. “Aku juga mau nonton TV”, katanya sambil memindahkan channel. Dipilihnya acara musik dan dikeraskannya volume.

“Berisik!” aku beranjak dari kursi. Lebih baik tidur, pikirku. Tara menjulurkan lidahnya padaku. Mengejek. Sial! Tak tahu kalau hatiku sedang panas. Aku melangkah ke kamar. Saat kulihat ibu memasak di dapur. Aku berbelok kearah dapur dan duduk di dingklik dekat ibu. “Baru pulang, Wi?” tanya ibuku sambil mengupas bawang. “Iya.” Jawabku pelan.

“Kenapa? Kok kelihatan lemas?” Ibu memandangku.

“Lagi sebel, Bu. Tadi habis dikerjain orang.” Ku putar-putar besek berisi bumbu dapur.

“Dikerjain gimana?”

Aku ceritakan kejadian dirumah makan. Ibu tampak serius mendengarkan sambil tangannya masih sibuk mengupas bawang. “Aku kan kesal banget, Bu. Iseng banget mereka itu.” Kataku mengakhiri cerita.

“Salahmu.” Komentar ibu.” Sudah pake jilbab kok ya pacaran. Jalan pas waktunya shalat jum’at, jadi semua orang tahu. Pantas lah mereka geregetan lihat kamu.”

“Ibu kok bilang gitu si. Anto itu baik banget, Bu.” Aku mencoba membela Anto. “Mereka saja yang reseh. Suka ngurusin orang lain. Kalau mau kasih nasehat itu kan harusnya pakai cara yang sopan bukan kayak gitu.”

“Iya tuh, Mbak Dewi emang ganjen. Banyak cowok muslim e milihnya yang Kristen. Emang mo jadi orang Kristen po?” Tara menyahut dari belakang. Tangannya memegang gelas berisi air putih.

“Hus, anak kecil tahu apa?” kataku marah.

“Kecil-kecil gini aku juga belajar agama, mbak. Aku juga ngerti soal agama. Ga kayak Mbak Dewi, pake jilbab cuma buat mode saja. Ga dari hati.”

Aku mengangkat irus dari rak dapur dan melemparkannya ke Tara. Anak itu menghindar kesamping.
Lemparanku sia-sia. Tara menjulurkan lidah mengejekku. Suka sekali dia melakukan itu. Apa sih enaknya
bikin orang marah dengan cara itu?

“Sudah, sudah. Kok malah ribut.” Ibu melerai pertikaian kami. “ Tapi sebenarnya ibu juga ga setuju kamu jalan sama Anto. Mbok ya putus saja.”

“Setuju!” Suara Tara bersemangat. Aku mendelik padanya. Tara tertawa terbahak-bahak.

“Ibu kok jadi ikutan Tara si. Aku dan Anto kan ga nglakuin apa-apa?”

“Masalahnya bukan kamu sudah atau belum melakukan apa-apa. Masalahnya kamu dan Anto itu BEDA.” Ibu memberi tekanan pada kata “beda”. Beda agama maksudnya.

Awal aku mengenalkan Anto pada ibu sebenarnya ibu sudah wanti –wanti soal perbedaan agama ini. Ibu takut aku tergelincir dan mengikuti agama Anto. Namun aku selalu mengatakan bahwa itu tak mungkin terjadi. Anto tak pernah memaksa aku mengikuti agama dia, begitu juga aku. Setelah berkali-kali ibu mengatakan itu dan aku tetap jalan bareng sama Anto. Ibu memilih diam. Hanya kalau ada kesempatan pasti ibu akan menyinggung hal itu lagi. Seperti sekarang ini.

Aku bukannya tidak memikirkan tapi sulit sekali memisahkan diri dari Anto. Dia begitu baik dan sangat mengerti aku. Kami sangat cocok. Pembicaraan kami sangat nyambung. Pokoknya aku sangat cinta sama dia. Tak kubayangkan kalau harus pisah sama dia. Bisa mati duniaku.
-000

Malam natal, Anto sudah bilang kalau dia mau pergi ke gereja untuk misa natal jadi tidak bisa datang kerumah atau menemani aku jalan-jalan. Aku mengiyakan. Mau gimana lagi. Sudah diniati jalan sama orang beda agama ya harus menghormati acara mereka. Aku memilih dirumah saja. Nonton TV.
Breaking News! Sebuah bom meledak di Gereja Santa Maria di Jalan Kusuma, Yogyakarta. Tiga orang tewas, beberapa orang terluka.

Gereja Santa Maria di Jalan Kusuma? Itukan gereja Anto. Kepalaku langsung nyut-nyut mendengar berita terbaru di TV. Aku tak bisa menghentikan rasa gelisahku. Aku mondar mandir di depan TV. Anto benar-benar tak bisa dihubungi. Handphonenya terus mati walau aku sudah mencoba menghubungi beberapa kali.

Aku tak bisa berdiam diri. Segera kuambil jaket dan kularikan motorku ke rumah sakit. Dalam hati aku berdoa agar aku tidak menemukan dia disana. Aku tak akan tahan melihatnya terluka apalagi mati. Tuhan, selamatkan Anto.

Suasana rumah sakit begitu ributnya. Jumlah orang yang terluka ternyata cukup banyak. Selasar rumah sakit penuh dengan orang yang terluka. Perawat bolak-balik diantara mereka. Aku mencari-cari Anto. Kutemukan Anto di ujung. “Anto, kau baik-baik saja?” aku langsung memegang tangan Anto yang tampak masih lemas. Walau lukanya tak parah tapi pasti dia sangat shock dengan kejadian itu. Anto tersenyum,”Aku tak apa-apa. Tak usah khawatir.” Kulihat Anto tampak senang dengan kedatanganku tapi aku juga merasakan kegelisahan dari matanya. Berkali-kali aku melihat dia melirik kesudut. Ada dua orang berdiri disana sambil berbisik-bisik.

Setelah beberapa saat, seorang yang lebih tua berkata padaku, “Maaf Dewi, Anto butuh istirahat. Bisakah kamu pulang sekarang? Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk menjenguk Anto.” Aku memandang dia dengan heran. Kemudian mataku beralih ke Anto. “Ini ibuku,” kata Anto. Deg, ini pertama kali aku bertemu ibunya. Kelihatan galak sekali. Aku masih ingin bersama Anto namun sepertinya suasana tidak mengijinkan. Setelah pamit pada Anto dan keluarganya. Aku meninggalkan rumah sakit.
---000

Setelah kejadian di rumah sakit itu, Anto mengirim SMS agar aku tidak menjenguknya. Dia akan datang nanti setelah sembuh. Aku pikir itu hanya untuk 1 atau 2 hari saja tapi ternyata sampai seminggu Anto belum juga datang. Sudah kukirim SMS tapi dia hanya bilang kalau kakinya masih sakit jadi dia belum bisa pergi. Dia menyuruhku bersabar. Tapi rinduku sudah diujung kepala.

Malam itu nekad aku menelponnya “Kak Anto sudah tidur,” kata adiknya. Masak si baru jam delapan sudah tidur, pikirku. Mungkin karena sakit dia cepat tidur, kataku menenangkan diri. Paginya sekitar jam Sembilan aku mencoba menelponnya lagi. Kali ini ibunya yang angkat.“Jangan menelpon lagi. Sudah tahu Anto sedang sakit malah menganggu,” jawab Ibu Anto ketus. Aku merasakan sesuatu yang tidak beres dari nada bicara Ibu Anto. Ini membuatku makin gelisah.

Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku memilih pulang cepat walau masih ada satu kuliah lagi. Tak ada gunanya masuk kelas kalau pikiran lagi kacau kayak gini. Pikiranku mengembara. Kupikirkan Anto dan sikap ketus ibunya di telfon. Apakah sekarang ibu Anto mulai ingin terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya padaku? Jika begitu, mungkinkan cinta kami sampai di pernikahan? Pacaran saja keluarga kami tidak setuju, apalagi menikah. Pasti mereka akan menentang pernikahan kami. Padahal aku berprinsip tidak akan menikah tanpa restu orang tua.

Kisah cinta ini seperti kisah cinta tanpa ujung. Terlalu berat menyatukan kami tanpa harus melukai salah satu pihak keluarga. Haruskah ini kuteruskan atau putus saja? Tapi Anto begitu baik dan aku tak rela melepaskannya. Lalu aku harus bagaimana? Kutelungkupkan wajahku di bantal. Rasanya ingin menghilang.

Kring kring kring. Telfonku berdering. Dari seberang aku dengar suara Anto. Akhirnya dia menelfon juga. Anto mengajak aku ketemu di cafe merah dekat alun-alun. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan dan bergegas pergi. Anto sudah menunggu disana. Di meja sudut, sendirian, hanya ditemani rokoknya yang mengepul. Aku segera melangkah kearahnya dan duduk di kursi disampingnya. Setelah berbasa basi tak perlu soal kabar dan kesehatan, Anto mulai ke inti cerita.

“Ibuku sangat marah. Awalnya pada orang yang mengebom gereja itu, lalu padaku. Tiap hari dia marah soal kamu. Dia melarangku menemuimu, karena itulah aku tak bisa segera datang walau aku sudah sembuh.” Anto menghela nafas.”Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak mau berselisih dengan ibu tapi sulit bagiku untuk tak menemuimu. Aku rindu padamu.”

Aku diam. Ada juga rasa rindu dalam hatiku namun kenapa sulit aku mengatakannya? Bahkan akhirnya keluar kata yang sama sekali berbeda. “Kita putus saja.” Kata itu meluncur dari bibirku begitu saja. Anto tampak terkejut. Dia menatapku tak percaya.

“Kau serius mengatakan itu?” tanyanya seakan aku telah mengatakan kebohongan padanya.

Aku mengangguk. Entah apa yang membimbingku, mungkin pikiran tentang cinta yang tak berujung dan ketakutan akan kenyataan itu.

“Tapi aku tak mengatakan mau putus denganmu. Aku hanya bilang ibuku marah padaku. Thats it.” Anto berusaha memberikan penjelasan lanjutan. Mungkin dia berharap yang dikatakannya akan merubah pikiranku.

“Ibumu tak setuju, ibuku juga begitu. Aku merasa cinta kita sia-sia karena pada akhirnya kita tak akan bisa bersama. Hari ini atau nanti, akhirnya kita akan berpisah. Kupikir lebih baik sekarang saja, sebelum aku benar-benar tak bisa kehilangan dirimu.”

“Tapi kita tak pernah tahu apa yang terjadi nanti. Mungkin ada yang akan berubah. Kalau kita berusaha semuanya akan bisa kita lakukan.”

“Terlalu berat, Anto. Aku tak akan kuat menanggungnya.”

“Aku tak bisa berpisah darimu. Aku begitu mencintaimu.”

“Kau akan menemukan cinta lain yang lebih baik. Yang tidak perlu harus mengorbankan keluarga kita.”
Anto diam. Aku pun diam. Masih sulit menerima jika kami harus berpisah namun ini lebih baik daripada
jika kami bersama. Tuhan tolong hapus dia dari hatiku, doaku. Tetapkanlah cintaku pada-MU menjadi yang pertama dan utama daripada semua cinta yang ada di dunia ini.
--- end

13 komentar:

Sekolah Menulis 'Aifah mengatakan...

kenapa cerpen ini lolos? idenya unik! emang masih banyak yg harus diedit, tapi udahlah, standar kami belum setinggi annida-online kok.

selamat ya!
(pulsanya insyaallah segera setelah komen teman2mu masuk)

Anonim mengatakan...

Terimakasih sudah dimuat ya... ditunggu pulsanya...

Anonim mengatakan...

cerpennya menarik, bikin penasaran endingnya gimana,,
kalo kring-kringnya diubah gimana? berasa jaman dulu banget, mending diubah ke nada dering yang lebih oke deh.. hehe..

ana bee mengatakan...

Thank U Nida...emang hpnya dah jadul, cuma punya kring kring hehehe

resna mengatakan...

bagusss,,,, tapiii kok endingy hikzzzzzz......... 'tak bisa bersma krena berbeda'.... huaaaaaaaaaah :( :(

tari mengatakan...

@resna, justru itu yg bikin unik. kalo "akhirnya mereka bahagia selamanya" kan estede;P

Beloved Princess mengatakan...

saat ngebaca ceritanya bikin penasaran banget... bertanya2 kenapa bisa dikatakan pacarnya beda,ada apa dg pacarnya,well done kak ana.. Love is sometimes painful .. :D very good story,,namanya kok jadi namaku ya,., inspired dg namaku ya.. hihihi

ana bee mengatakan...

@resna. Cinta tak selamanya harus memiliki hehehe.
@Beloved princess. Sepertinya aku teringat dirimu saat menulis ini. Tapi dirimu tak pernah bersama dengan seseorang yang "beda" kan???? Thanks ya sudah leave comments here....

tari mengatakan...

2 orang komentator lagi;)

Johan mengatakan...

Nice....cerita yang bagus....
memang cinta tidak harus memiliki....

ana bee mengatakan...

Thank U, bos.
Tapi lebih indah jika bisa memiliki tanpa menyakiti ya....peace...

cyandra arletta mengatakan...

mba anna cerpen nya bagus satu kata yg paling ku suka "lebih baik sakit sekarang dr pd nnti akhirnya menyesal"...smga dpt inspirasi lg utk buat cerpen yg bagus lg



salam hangat dr cyandra arletta

ana bee mengatakan...

Trimakasih Alin....

Trimakasih juga buat admin. Pulsanya sudah masuk ni....

Nanti cerpenku dimuat lagi ya.....