13 komentar

cerpen lolos februari 2012

*PACARKU….BEDA!*
Oleh : Ana Bee

Rumah makan itu tidaklah ramai. Hanya beberapa meja yang terisi. Disudut ada sekelompok gadis berjilbab sedang makan sambil mengobrol. Di sudut yang lain sebuah keluarga, itu menurutku, ada seorang ayah, ibu dan 2 orang anak. Beberapa meja lain terisi hanya ada 2 orang saja. Aku mengambil meja kosong di lesehan. Anto mengikutiku. Dari masjid seberang rumah makan suara khatib shalat jum’at terdengar sedang memberikan khutbah.

Seorang pelayan menghampiri kami dan menyodorkan dua buah buku menu dan lembar pemesanan. Segera aku ambil dan mulai memilih. Perutku sudah keroncongan sejak tadi. Tak sempat sarapan dan sesiang ini jalan dari toko ke toko sangat melelahkan.

“Mau makan apa, Beib?” tanyaku pada Anto yang duduk disampingku. Anto membolak-balik buku menu. Akhirnya dia memilih ayam garang asam dan nasi bakar. Minumnya es lemon tea. Pilihan tepat, pikirku. Aku ngikut dia. Pelayan datang mengambil pesanan. Kuambil dua majalah di rak samping meja. Saat aku berbalik, kulihat gadis-gadis berjilbab itu memandang ke arah kami. Sebentar kemudian aku mendengar tawa mereka.

“Apa mereka sedang membicarakan aku?” pikirku. Sejak berpacaran dengan Anto aku selalu merasa tak nyaman jika ada yang memperhatikan kami. Kupikir mereka semua mempergunjingkan kami. Aku melihat ke arah Anto. Dia asyik merokok. Asapnya mengepul ke udara. “Beib, jangan merokok disini. Bikin penyakit saja.” Aku merengut. Kuletakkan majalah di depannya satu dan untukku satu.

“Pahit kalau ga ngrokok,” katanya. Tapi dimatikan juga rokok itu di asbak. Itu yang kusuka dari Anto. Kalau aku mulai merengut, dia langsung nurutin apa kataku. Tak mau memperpanjang urusan, apalagi sampai bertengkar. Dan satu lagi, Anto itu orangnya sabarrrr banget. Susah cari cowok kayak Anto.
Kulirik sekilas kelompok itu. Kelihatan sedang asyik dengan makanan dan obrolan mereka. Dalam hati aku membatin, “Ah mungkin bukan aku yang mereka bicarakan, perasaan saja.” Aku mulai membolak-balik majalah. Gossip artis korea dan gaya dandanan mereka di kupas habis di edisi kali ini. Cocok sekali dengan trend remaja masa kini.

Minuman datang, lalu disusul makanan. Ayam garang asam ditempat ini terkenal sangat enak. Rasanya asam-asam segar. Mereka memakai blimbing wuluh untuk mendapatkan rasa ini. Dari nasi bakar, pedasnya sangat terasa. Pokoknya mantep poll. Kami segera makan.

Blug! Sesuatu jatuh di meja kami. Tissue makan beberapa lembar yang diremas menjadi bola. Ada sebutir bakso didalamnya. Aku mencari orang yang menjatuhkan barang itu. Kulihat kelompok gadis berjilbab itu barusaja berlalu dari meja kami. Beberapa nampak terbungkuk sambil menutup mulutnya. Yang lain hanya senyum-senyum menahan tawa. Aku yakin merekalah yang sengaja melakukan itu. Di tissue itu ada tulisan dengan spidol merah “Pacarnya lagi haid ya hahaha.”

Gadis-gadis itu berdiri didekat kasir dan mereka semua memandang kearah kami. Menunggu reaksiku. Masih dengan senyum senyum mengejek di muka mereka. Darahku naik ke kepala. Hampir aku berdiri tapi tangan Anto menahan. “Tak usah!” katanya sambil menarikku kembali duduk. Mereka berlalu sambil tertawa-tawa. Huuuhhh, kalau mereka ada disini ingin ku remas-remas mereka seperti tissue ini. Iseng banget si.
“Gitu saja kok diladeni.” Anto mengomentari kemarahanku. “Biarkan saja.”

“Tapi harusnya mereka ga usah iseng kayak gitu. Suka ikut campur. Kayak mereka yang paling suci saja.” Aku masih saja mengomel. Anto mengibas-ibaskan tissue putih di depanku. “Time out ..time out. Lupakan saja lah. Habiskan makananmu.”

Selera makanku sudah pergi. Laparku sudah lenyap. Kuaduk-aduk nasi tanpa bermaksud memakannya. Pengin rasanya kulempar nasi ini kemuka mereka itu. Sok kali. Reseh. Huh! Anto menyorongkan minumannya padaku. “Untuk apa? Punyaku masih ada,” kataku. “Siapa tahu kau butuh lebih banyak air untuk mendinginkan hatimu. Asapnya dah keluar tu. Hehehe.” Anto tertawa.

“Apa si maksud mereka itu? Kampungan! Kalau berani langsung saja knapa?” aku masih mengomel.

“Mereka cuma anak-anak kurang kerjaan. Lagi bosan kali. Sudahlah.” Anto mencoba menenangkanku. Tapi aku sudah terlanjur panas. Sebel banget. “Tar besok lagi tak usah pergi pas jum’at gini, jadi ga ngundang orang buat iseng.” Anto menambahi.

“Lho emang kenapa? Ketahuan kalau kita beda, gitu? Emangnya kenapa kalau kita beda?” Aku nyerocos.

Kata-kata Anto makin membuatku panas. Aku merasa tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas.

Hubunganku dengan Anto masih dalam taraf pacaran yang normal. Kami hanya jalan atau makan bersama.

Tak ada yang aneh. Namanya juga saling cinta, tentu saja kami ingin selalu dekat. Namun kami tidak tinggal serumah, tidak pernah tidur bersama. Lalu mengapa mereka menganggu kami? Kami tak mengganggu siapapun.

“Sudahlah! Tak usah diteruskan. Tak enak, banyak orang.” Anto menghentikan bicaraku. Aku masih ingin bicara lebih banyak tapi kemudian aku sadar beberapa orang melihat kearah kami. Mungkin tadi bicaraku agak keras saking kesalnya. Acara makan hari itu benar-benar berantakan. Aku kesal sekali.
---000

Sampai dirumah kubanting tubuh di kursi depan TV. Saluran TV kuganti channel berulang-ulang tanpa ada satupun yang ingin kulihat. “Huuhhh! Jelek semua.” Kataku sambil memencet tombol remote. TV sekarang kalau isinya bukan sinetron atau acara musik, atau game yang tak ada satupun yang kusuka. Berita juga isinya bikin sedih, pertumpahan darah, anarki massa. Bosan ngelihatnya.

Set! Tara, adikku, merampas remote TV dari tanganku. “Apaan si, Ra? Aku mau nonton TV ni.” Kataku sambil berusaha merebut kembali remote itu dari tangan Tara. Tara bergerak cepat dan duduk di ujung kursi yang jauh. “Aku juga mau nonton TV”, katanya sambil memindahkan channel. Dipilihnya acara musik dan dikeraskannya volume.

“Berisik!” aku beranjak dari kursi. Lebih baik tidur, pikirku. Tara menjulurkan lidahnya padaku. Mengejek. Sial! Tak tahu kalau hatiku sedang panas. Aku melangkah ke kamar. Saat kulihat ibu memasak di dapur. Aku berbelok kearah dapur dan duduk di dingklik dekat ibu. “Baru pulang, Wi?” tanya ibuku sambil mengupas bawang. “Iya.” Jawabku pelan.

“Kenapa? Kok kelihatan lemas?” Ibu memandangku.

“Lagi sebel, Bu. Tadi habis dikerjain orang.” Ku putar-putar besek berisi bumbu dapur.

“Dikerjain gimana?”

Aku ceritakan kejadian dirumah makan. Ibu tampak serius mendengarkan sambil tangannya masih sibuk mengupas bawang. “Aku kan kesal banget, Bu. Iseng banget mereka itu.” Kataku mengakhiri cerita.

“Salahmu.” Komentar ibu.” Sudah pake jilbab kok ya pacaran. Jalan pas waktunya shalat jum’at, jadi semua orang tahu. Pantas lah mereka geregetan lihat kamu.”

“Ibu kok bilang gitu si. Anto itu baik banget, Bu.” Aku mencoba membela Anto. “Mereka saja yang reseh. Suka ngurusin orang lain. Kalau mau kasih nasehat itu kan harusnya pakai cara yang sopan bukan kayak gitu.”

“Iya tuh, Mbak Dewi emang ganjen. Banyak cowok muslim e milihnya yang Kristen. Emang mo jadi orang Kristen po?” Tara menyahut dari belakang. Tangannya memegang gelas berisi air putih.

“Hus, anak kecil tahu apa?” kataku marah.

“Kecil-kecil gini aku juga belajar agama, mbak. Aku juga ngerti soal agama. Ga kayak Mbak Dewi, pake jilbab cuma buat mode saja. Ga dari hati.”

Aku mengangkat irus dari rak dapur dan melemparkannya ke Tara. Anak itu menghindar kesamping.
Lemparanku sia-sia. Tara menjulurkan lidah mengejekku. Suka sekali dia melakukan itu. Apa sih enaknya
bikin orang marah dengan cara itu?

“Sudah, sudah. Kok malah ribut.” Ibu melerai pertikaian kami. “ Tapi sebenarnya ibu juga ga setuju kamu jalan sama Anto. Mbok ya putus saja.”

“Setuju!” Suara Tara bersemangat. Aku mendelik padanya. Tara tertawa terbahak-bahak.

“Ibu kok jadi ikutan Tara si. Aku dan Anto kan ga nglakuin apa-apa?”

“Masalahnya bukan kamu sudah atau belum melakukan apa-apa. Masalahnya kamu dan Anto itu BEDA.” Ibu memberi tekanan pada kata “beda”. Beda agama maksudnya.

Awal aku mengenalkan Anto pada ibu sebenarnya ibu sudah wanti –wanti soal perbedaan agama ini. Ibu takut aku tergelincir dan mengikuti agama Anto. Namun aku selalu mengatakan bahwa itu tak mungkin terjadi. Anto tak pernah memaksa aku mengikuti agama dia, begitu juga aku. Setelah berkali-kali ibu mengatakan itu dan aku tetap jalan bareng sama Anto. Ibu memilih diam. Hanya kalau ada kesempatan pasti ibu akan menyinggung hal itu lagi. Seperti sekarang ini.

Aku bukannya tidak memikirkan tapi sulit sekali memisahkan diri dari Anto. Dia begitu baik dan sangat mengerti aku. Kami sangat cocok. Pembicaraan kami sangat nyambung. Pokoknya aku sangat cinta sama dia. Tak kubayangkan kalau harus pisah sama dia. Bisa mati duniaku.
-000

Malam natal, Anto sudah bilang kalau dia mau pergi ke gereja untuk misa natal jadi tidak bisa datang kerumah atau menemani aku jalan-jalan. Aku mengiyakan. Mau gimana lagi. Sudah diniati jalan sama orang beda agama ya harus menghormati acara mereka. Aku memilih dirumah saja. Nonton TV.
Breaking News! Sebuah bom meledak di Gereja Santa Maria di Jalan Kusuma, Yogyakarta. Tiga orang tewas, beberapa orang terluka.

Gereja Santa Maria di Jalan Kusuma? Itukan gereja Anto. Kepalaku langsung nyut-nyut mendengar berita terbaru di TV. Aku tak bisa menghentikan rasa gelisahku. Aku mondar mandir di depan TV. Anto benar-benar tak bisa dihubungi. Handphonenya terus mati walau aku sudah mencoba menghubungi beberapa kali.

Aku tak bisa berdiam diri. Segera kuambil jaket dan kularikan motorku ke rumah sakit. Dalam hati aku berdoa agar aku tidak menemukan dia disana. Aku tak akan tahan melihatnya terluka apalagi mati. Tuhan, selamatkan Anto.

Suasana rumah sakit begitu ributnya. Jumlah orang yang terluka ternyata cukup banyak. Selasar rumah sakit penuh dengan orang yang terluka. Perawat bolak-balik diantara mereka. Aku mencari-cari Anto. Kutemukan Anto di ujung. “Anto, kau baik-baik saja?” aku langsung memegang tangan Anto yang tampak masih lemas. Walau lukanya tak parah tapi pasti dia sangat shock dengan kejadian itu. Anto tersenyum,”Aku tak apa-apa. Tak usah khawatir.” Kulihat Anto tampak senang dengan kedatanganku tapi aku juga merasakan kegelisahan dari matanya. Berkali-kali aku melihat dia melirik kesudut. Ada dua orang berdiri disana sambil berbisik-bisik.

Setelah beberapa saat, seorang yang lebih tua berkata padaku, “Maaf Dewi, Anto butuh istirahat. Bisakah kamu pulang sekarang? Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk menjenguk Anto.” Aku memandang dia dengan heran. Kemudian mataku beralih ke Anto. “Ini ibuku,” kata Anto. Deg, ini pertama kali aku bertemu ibunya. Kelihatan galak sekali. Aku masih ingin bersama Anto namun sepertinya suasana tidak mengijinkan. Setelah pamit pada Anto dan keluarganya. Aku meninggalkan rumah sakit.
---000

Setelah kejadian di rumah sakit itu, Anto mengirim SMS agar aku tidak menjenguknya. Dia akan datang nanti setelah sembuh. Aku pikir itu hanya untuk 1 atau 2 hari saja tapi ternyata sampai seminggu Anto belum juga datang. Sudah kukirim SMS tapi dia hanya bilang kalau kakinya masih sakit jadi dia belum bisa pergi. Dia menyuruhku bersabar. Tapi rinduku sudah diujung kepala.

Malam itu nekad aku menelponnya “Kak Anto sudah tidur,” kata adiknya. Masak si baru jam delapan sudah tidur, pikirku. Mungkin karena sakit dia cepat tidur, kataku menenangkan diri. Paginya sekitar jam Sembilan aku mencoba menelponnya lagi. Kali ini ibunya yang angkat.“Jangan menelpon lagi. Sudah tahu Anto sedang sakit malah menganggu,” jawab Ibu Anto ketus. Aku merasakan sesuatu yang tidak beres dari nada bicara Ibu Anto. Ini membuatku makin gelisah.

Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku memilih pulang cepat walau masih ada satu kuliah lagi. Tak ada gunanya masuk kelas kalau pikiran lagi kacau kayak gini. Pikiranku mengembara. Kupikirkan Anto dan sikap ketus ibunya di telfon. Apakah sekarang ibu Anto mulai ingin terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya padaku? Jika begitu, mungkinkan cinta kami sampai di pernikahan? Pacaran saja keluarga kami tidak setuju, apalagi menikah. Pasti mereka akan menentang pernikahan kami. Padahal aku berprinsip tidak akan menikah tanpa restu orang tua.

Kisah cinta ini seperti kisah cinta tanpa ujung. Terlalu berat menyatukan kami tanpa harus melukai salah satu pihak keluarga. Haruskah ini kuteruskan atau putus saja? Tapi Anto begitu baik dan aku tak rela melepaskannya. Lalu aku harus bagaimana? Kutelungkupkan wajahku di bantal. Rasanya ingin menghilang.

Kring kring kring. Telfonku berdering. Dari seberang aku dengar suara Anto. Akhirnya dia menelfon juga. Anto mengajak aku ketemu di cafe merah dekat alun-alun. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan dan bergegas pergi. Anto sudah menunggu disana. Di meja sudut, sendirian, hanya ditemani rokoknya yang mengepul. Aku segera melangkah kearahnya dan duduk di kursi disampingnya. Setelah berbasa basi tak perlu soal kabar dan kesehatan, Anto mulai ke inti cerita.

“Ibuku sangat marah. Awalnya pada orang yang mengebom gereja itu, lalu padaku. Tiap hari dia marah soal kamu. Dia melarangku menemuimu, karena itulah aku tak bisa segera datang walau aku sudah sembuh.” Anto menghela nafas.”Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak mau berselisih dengan ibu tapi sulit bagiku untuk tak menemuimu. Aku rindu padamu.”

Aku diam. Ada juga rasa rindu dalam hatiku namun kenapa sulit aku mengatakannya? Bahkan akhirnya keluar kata yang sama sekali berbeda. “Kita putus saja.” Kata itu meluncur dari bibirku begitu saja. Anto tampak terkejut. Dia menatapku tak percaya.

“Kau serius mengatakan itu?” tanyanya seakan aku telah mengatakan kebohongan padanya.

Aku mengangguk. Entah apa yang membimbingku, mungkin pikiran tentang cinta yang tak berujung dan ketakutan akan kenyataan itu.

“Tapi aku tak mengatakan mau putus denganmu. Aku hanya bilang ibuku marah padaku. Thats it.” Anto berusaha memberikan penjelasan lanjutan. Mungkin dia berharap yang dikatakannya akan merubah pikiranku.

“Ibumu tak setuju, ibuku juga begitu. Aku merasa cinta kita sia-sia karena pada akhirnya kita tak akan bisa bersama. Hari ini atau nanti, akhirnya kita akan berpisah. Kupikir lebih baik sekarang saja, sebelum aku benar-benar tak bisa kehilangan dirimu.”

“Tapi kita tak pernah tahu apa yang terjadi nanti. Mungkin ada yang akan berubah. Kalau kita berusaha semuanya akan bisa kita lakukan.”

“Terlalu berat, Anto. Aku tak akan kuat menanggungnya.”

“Aku tak bisa berpisah darimu. Aku begitu mencintaimu.”

“Kau akan menemukan cinta lain yang lebih baik. Yang tidak perlu harus mengorbankan keluarga kita.”
Anto diam. Aku pun diam. Masih sulit menerima jika kami harus berpisah namun ini lebih baik daripada
jika kami bersama. Tuhan tolong hapus dia dari hatiku, doaku. Tetapkanlah cintaku pada-MU menjadi yang pertama dan utama daripada semua cinta yang ada di dunia ini.
--- end

2 komentar

contoh cerpen enteng, krenyeng2..

CEMEN
Syarifah Lestari

Sabar, ya, Sayang….

Garing, garing, garing! Cuma itu yang bisa mereka bilang. Ambil hikmahnya, Dek! Huh, mereka bukan motivator. Bukannya sabar, aku sih makin pengen mewek kebosenan! Apa nggak ada kata-kata lain yang bisa mereka lempar kecuali sabar dan ambil hikmahnya? Plis deh, aku kan butuh solusi. Bukan sekadar ember buat nampung airmata!

Hhh, dadaku rasanya makin penat. Tugas banyak, temen pengajian bikin bete, ortu pelit, de es be sembelekete! Pengen teriak, takut dikira gila. Padahal aku sebenernya emang gila. Gimana nggak, aku kan dikelilingi orang-orang gila. Oh kewarasan, di manakah kau berada?

“Mbak, disuruh Mama makan!” Semi teriak dari balik pintu kamarku.

“Gak usah diteriakin, kalo laper tar juga keluar sendiri!” balasku dengan berteriak pula.

“Dasar cemen, punya masalah selalu dibawa pulang.” Kudengar Semi menggerutu.

Emang aku cemen, bego, loyo…. Pusing!

Tat tit tut….

Hmm, awas kalo si biang parasit tuh yang sms! Kuraih HP di saku jaket.

Aslm.pa kabare mpok? Jgn lupa besok baksos. Ente bisa jemput Arin kan.

Refleks aku tersenyum. Riza. Anak satu ini kalo minta tolong lebih mirip perintah. Tapi gayanya yang nyantai dan kadang terkesan ancur justru bikin aku nyaman.

Wslm. Kbr jlx, sejelek mukamu. Aq lg bete. Bisa!

Jgn memutarbalikkan fakta dunk! Say Insyaallah… oya, ada sodara qt yg lg bokek berat. Bisa bantu gak? Sedekah bikin hepi loh, obat bete.

Bokek? Perasaan si Riza hari-hari juga bokek. Tapi dia gak pernah minta bantuan orang. Kenapa sekarang malah dia nyari bantuan untuk orang lain?

Sodara pa sodara? Maksudnya ente kan yg lagi bokek?

Hehe, ane sih tiap hari ya gini. Tp beneran kok, sodara qt tuh butuh duit bgt. Bawa besok ya! Pulsa sekarat

Tuh kan, dia sendiri bawaannya kere aja. Kalo butuhnya masih di bawah sejuta sih, aku punya. Kalo lebih, mikir dulu. Bisa ganti gak?
***

“Dasar gila!” kumaki pengendara motor yang seenaknya menyalip dari kiri. Mau mati aja pake nyusahin orang.

“Eh, akhwat kok suka maki-maki orang sih?” kening Arin langsung lipat sebelas.

“Emangnya akhwat tuh malaikat, gak bisa marah, senyum mulu, serbasabar?”

“Jaim kek!”

“Kita kan nggak boleh muna’. Kalo kesel ya kesel aja. Ngapain sok baik, taunya hati korengan!”

“Kamu tuh, Ta, istighfar gih! Tiap pekan ngaji kok gak beda sama awam.”

“Apa hakmu nge-judge aku gitu?”

Arin diem. Mungkin takut kulempar di jalan.

Belokan terakhir kulalui, sebentar lagi gapura sekre Ghanimah menyambut. Bosen juga sebelahan sama akhwat alim yang antidosa ini.

“Assalamu’alaikum. Kok cemberut, pe em es lagi? Sebulan dapet empat kali ya?” Riza nyengir. Pemandangan menyenangkan setelah sekian menit tegang urat.

“Baru bersih kok, cuma bad mood aja.”

“Bad mood jangan diturutin, langsung kerja yuk. Kalo banyak kegiatan, pikiran-pikiran negatif jadi gak gampang nempel!”

Plong banget hidup akhwat pecinta jilbab kaos ini. Riza bener-bener bikin iri. Dengan amanah yang seabrek, dia bukannya jadi bungkuk. Malah keliatan seger terus.

“Ayo, sodara! Hadepin masalah pake gaya orang sibuk dong. Gak usah dalem-dalem banget mikirinnya, tar bukannya beres, malah makin dalem!” Riza menghambur ke dalam sekretariat. Tugas yang biasa dia sebut ‘amanah Allah’ pasti sudah numpuk!
***

Capeeekk…!! Segera kulompati spring bed empuk kamar.

Seharian rapat, ngejar dosen, belajar kelompok, plus sakit perut, bikin klop penderitaan. Aah, dunia. Kapan aku istirahat? Kalo lagi capek gini, pengen curhat aja males. Soale, paling-paling disuruh sabar. Paling banter ambil hikmahnya. Capek deh!

Kubentangkan kedua tangan. Sambil memejamkan mata, kuhirup udara pelan-pelan dan membuangnya dengan perlahan pula. Ini resep dari Riza. Membuang pikiran buruk, supaya nasib gak makin buruk. Paling-paling dia ngarang, tapi coba ajalah.

Dalam serba hitam, kucoba munculkan bayangan orang-orang dekatku. Mama yang itungan; Papa si workaholic; Semi biang cerewet; Arin sok suci; Kak Dewi, pembina kajian yang kalo balas sms paling cepat sejam setelah nerima; dan Riza sinting. Kok dikit bener ya? Kucoba lagi, dan yang muncul dengan durasi cukup lama hanya enam makhluk itu. Kucoba berkali-kali. Hasilnya masih seperti itu. Harus kuakui, duniaku memang sempit.

Aslm. Di mana, Ri? Sms-ku pending cukup lama. Mendadak aku kangen dia.

Wslm. Afwan baru bls. Di rmh sakit.

Siapa skt? Kok blsnya lama?

Sodara kita yg dulu butuh duit itu—sampe sekarang masih bth. Tadi lg di jalan, keliling cari pinjeman.

Aku bengong. Jadi sejuta yang dulu dia pinjam dan gak kukasih itu untuk bayar rumah sakit? Riza gak bilang sih, kirain buat yang lain. Kalo gitu, gak dipulangin juga nggak apa-apa!

Bergegas kutuju rumah sakit yang Riza maksud. Mudah-mudahan akhwat yang dia sebut sodara bisa langsung sembuh begitu tau administrasinya lunas.
***

“Makasih banyak, Mbak. Insyaallah saya akan berusaha melunasinya.”

“Nggak usah. Kalau Mbak punya uang, gunakan untuk modal usaha aja.”

“Kan utang harus dilunasi.”

“Ini bukan utang, tapi murni bantuan. Sebagai bentuk syukur, Mbak didik saja dia baik-baik. Jangan lupa pendidikan agamanya sampai besar nanti.” Riza tersenyum menimang bayi merah, anak saudaranya yang ia panggil Mbak.

Aku cuma jadi penonton. Riza yang ancur kok pede banget bilang duitnya gak usah diganti. Apalagi tuh Mbak bukan akhwat, cuma perempuan biasa. Awam. Apa bisa dipercaya?

“Ri, menolong itu pake unsur mendidik dong. Suaminya kan ada.” Kudorong kepala Riza dalam perjalanan menuju tempat parkir.

“Dia belum nikah, pacarnya gak tanggung jawab.”

“Trus hubungannya sama kamu? Jangan bilang kamu mau sekalian cariin dia ikhwan untuk bayarin utangnya.”

Riza senyum. Tumben tampangnya dewasa. “Ta, kalo lagi bete sama dosen, atau gondok diteriaki Semi, kamu pengen ada yang dengerin kamu kan? Gimana kalo kamu ngerasain yang Mbak tadi alami. Dia tertekan, semua keluarganya gak peduli, dengan alasan itu dosa dia sendiri. Aku ketemu dia pas kesakitan di pinggir jalan. Dia Muslim, sodara kita. Gimana kita bisa peduli dengan sodara- sodara di Palestina sana, kalo dengan yang deket aja kita cuek? Kamu tenang aja, Insyaallah duitmu kupulangin dalam sebulan ini.” Riza melenggang. Meski kata-katanya tajam, tapi tampangnya masih biasa aja.

Aku berbelok ke parkiran mobil. Riza mengambil sepeda motornya di sisi lain. Kubiarkan ia keluar lebih dulu.

Beberapa saat kemudian, baru mobilku bisa memutar untuk keluar dari area parkir. Saat melewati pos satpam, seseorang melambai, memintaku berhenti.

“Mbak, ini dompet cewek yang tadi ngobrol sama Mbak. Temennya kan?”

Aku mengangguk. “Jatuh ya, Mas?”

“Iya, pas keluar tadi. Mungkin saku jaketnya bolong.”

Kuambil dompet jadul Riza yang sudah pudar dimakan umur.
***

Cermin kamarku sedang nampilin wajah paling bodoh sedunia. Ternyata kerut-kerut di keningku muncul tiap hari cuma untuk hal-hal gak penting. Sepertinya kegiatanku yang seabrek, yang kuharap bisa menjadi pendukung predikatku sebagai aktivis, gak bisa membawaku ke surga. Aku nggak menikmati semua itu, bukti nihilnya keikhlasan.

Mungkin salah, waktu kubuka dompet Riza yang dititipkan satpam kemarin. Tapi dari kesalahan itu, aku berhasil menemukan kesalahan-kesalahan lain yang jauh lebih fatal.

Dalam dompet tua itu, bukan lembaran rupiah yang banyak. Tapi bukti transfer Riza ke beberapa rekening. Untuk dhuafa, Palestina, pesantren… padahal aku tau, Riza cuma ngandelin upah nulisnya untuk bensin motor dan pulsa. Di dalam dompet jelek itu, terselip target Riza. Jangka pendek: nraktir anak jalanan, menengah: punya laptop untuk umat, jangka panjang: ke Makkah!

Di dompet yang sudah nggak model lagi itu, ada berbagai konsep progam organisasi yang ia masuki. Ada rancangan kegiatan, jadwal harian, daftar tugas kampus dan kerjaan rumah.

Dasar Riza gila!

*cerpen ini pernah dimuat di annida versi cetak. kawan2 sila kirim yg ringan model gini, atau rada berat, atau berat banget:) anak2, remaja, umum.. yg penting unik & menarik. pulsa 25 ribu kan lumayan untuk ngurangin pengeluaran:)