0 komentar

DI SINI, CERPENMU DIBAYAR!!

Setelah keliling2 hingga berpeluh, ternyata susah ya nemuin situs yang mau bayar cerpen yang dimuat. Gak usah panjang2, gini deh. Sekolah Menulis ‘Aifah berbaik hati memberikan APRESIASI berupa PULSA Rp 25.000 kepada penulis cerpen yang karyanya dimuat di blog ini.
Syaratnya:

1. Karya orisinil 3-7 halaman A4, TNR 12pt atau Calibri 11, spasi 1,5

2. Tema bebas

3. Dikirim ke sm-aifah@hotmail.com atau sy.lestari@gmail.com dengan subjek: Cerpen Belajar Fiksi

4. Sertakan nomor HP untuk dikirimi pulsa:)

5. Penulis yang naskahnya dimuat, wajib mengundang MINIMAL 5 teman, keluarga, kenalan, dll ke blog Belajar Fiksi untuk MEMBERI KOMENTAR tentang cerpen tsb.

6. Hak atas karya tetap ada di penulis, boleh diterbitkan lagi ke media lain dengan mencantumkan keterangan "pernah dimuat di www.belajarfiksi.blogspot.com"

Jangan tunggu lama2 ya, info ini juga disebarkan via sms, jadi bakal banyak sainganmu. Segera, tulis sekarang!

0 komentar

BERJUANG ATAU MENGALAH!

Menarik sekali apa yang disampaikan Didik Wijaya pada situs www.escaeva.com setahun lalu. Dalam tulisan berjudul Not In the Mood itu, penulis memberikan dua solusi unik untuk masalah suasana hati yang kerap menjangkiti para penulis. Terus terang, saya sendiri tidak mengenal siapa itu Didik Wijaya. Entah yang bersangkutan kurang terkenal, atau memang saya yang kurang gaul. Tapi apalah artinya semua itu, toh saya lebih menyukai ilmu seseorang ketimbang namanya.

Jika kita sedang badmood, (ini asli kalimat saya, bukan hasil kopipes!) biasanya ide yang muncul tidak akan mengalir dengan mudah. Syukur-syukur jika masih mampu menerbitkan ide, terkadang kepala betul-betul kosong dari hal-hal kreatif.

Sudah disediakan cemilan, minuman penambah energi, plus deretan mp3 yang berdendang dari program Winamp untuk modal begadang, tapi tulisan masih mentok tidak bertambah satu alinea pun! Jangan panik dengan menjudge diri tak berbakat menjadi penulis, dua hal yang disarankan Didik mungkin bisa jadi solusi:

Pertama, paksa diri untuk terus menulis! Konyol, demikian komentar Didik sendiri. Padahal tidak. Bisa jadi, justru ‘amunisi’ yang kita siapkan itulah penyebab matinya ide di kepala.

Bertekadlah, bahwa kita harus tetap menulis. Matikan musik yang mengalun, singkirkan cemilan, konsentrasi! Lalu rasakan nikmatnya perjuangan setelah tulisan tadi usai dirampungkan.

Kedua, lakukan sebaliknya. Ketika kita sudah mati-matian membunuh mood jelek, dan tidak berhasil, maka mengalahlah! Mungkin kita sedang jenuh, penat, atau kelelahan. Matikan saja komputer, beralihlah untuk membaca buku, nonton tv, atau jalan-jalan. Siapa tahu, ada ide yang tercecer, dan kita bisa memungutinya dalam keadaan yang lebih fresh.

Satu hal yang tidak ditekankan Didik Wijaya dalam tulisannya, bahwa kita harus berada di tengah keduanya agar selalu imbang. Terlalu condong pada pilihan pertama dikhawatirkan membuat kualitas karya kita anjlok karena hasil ‘kerja paksa’. Terlalu sering mempraktikkan yang kedua pun sangat tidak sehat, karena jika berkepanjangan, mampu mematikan insting penulis yang telah dipupuk lama. Nyaris tidak ada keajaiban dalam dunia tulis menulis, semuanya butuh proses yang harus berkesinambungan.

Dua poin di atas hanya solusi gampang yang coba ditawarkan, jika kita mampu berbuat lebih, kenapa tidak? Mungkin kita bisa mencontoh Putu Wijaya yang ogah menulis jika mood-nya sedang baik, dan memaksa diri untuk menulis saat suasana hatinya tidak mendukung. Silakan pilih!

0 komentar