ji oke, kompas no:(

dapat imel dr kompas, tanpa berpanjang2 redaksi bilang cerpenku dikembalikan. santai... ini kan bukan yg pertama kali, nikmati aja! apalagi tu cerpen diterima kok di ji, biar kelas lokal yg penting gak nganggur di harddisk. kata kompas, cerpenku kependekan (menyimpulkan sendiri dr susunan kalimat imel mereka)



LUKISAN
Syarifah Lestari

“Aku berhasil melukis wajah setan,” Wilson setengah berbisik mengabari tetangga kosnya, Dadang.

“Kemarin kamera HP-mu menangkap bayangan tuyul, sebelumnya ada cekikik kuntilanak di rekaman radio. Tapi semuanya kemudian hilang, dan itu katamu, tanpa bisa kulihat buktinya,” Dadang melengos.

“Aku tidak berbohong, bagaimana membuktikan sesuatu yang sudah pergi. Sekarang lukisan itu ada di kamarku, ayo kita lihat biar kau percaya.”

“Dari mana kau mendapatkan wajah setan?” Dadang ragu, tak rela ia habiskan waktu hanya untuk menuruti bual Wilson.

“Dari televisi, kurekam wajah mereka di kepalaku.”

Akhirnya Dadang menurut saja, karena tangannya digandeng kuat oleh Wilson. Memasuki kamar paling ujung, yang jika pintunya dibuka, aneka aroma tajam akan menguar ke segala arah.

“Ini lukisannya,” Wilson memamer bangga karya seni di tangannya. Setan, demikian judul yang tertulis di sudut kanan atas lukisan.

Sementara Dadang menahan tawa yang mengguncang badannya.

“Percaya atau tidak, tadi ketika aku akan menjemputmu, setan ini sedang melirik ke bawah. Padahal aku membuatnya mendongak. Sekarang ia seperti berpose formal sejak kita datang.”
Guncangan Dadang makin kuat.

“Sebenarnya aku ingin menjual lukisan ini, tapi aku khawatir pembelinya akan marah.”

“Tentu saja marah, tapi itu jika ada yang bersedia membeli.” Dadang berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa, sebab Wilson nampak begitu serius.

“Jika setan ini pergi, seperti tuyul di HP dan kuntilanak di radio, maka kanvas kosong itu akan menjadi alasan pembeli untuk memakiku.”

Meledaklah tawa Dadang yang sudah tak lagi tertahan.

“Kenapa kau tertawa?”

“Begini saja, biar kubeli lukisanmu. Dan aku berjanji, tidak akan marah jika nanti kanvasnya tiba-tiba kosong.” Mata Dadang berair, kegelian terus membekapnya.

“Benarkah? Kujual seratus ribu saja.”
Dadang langsung menggeleng. “Tidak lebih dari dua puluh lima ribu.”

“Itu hanya harga bingkainya, Kawan!”

“Tiga puluh.”

“Kau tidak menghargai kreativitas, kau tak tau keindahan. Ini sebuah mahakarya, tak mungkin harganya hanya seperlima dari pigura sederhana ini,” Wilson tak terima.

“Baiklah, kuhargai sama. Jadi lima puluh. Jika naik lagi, tidak usah saja.” Dadang hendak keluar kamar, mulai berkurang semangat tertawanya.

“Oke, hanya karena kita satu kos!” Wilson menyerahkan lukisan di tangannya perlahan, sangat hati-hati.

“Uangnya besok, setelah aku gajian.”
Wilson mendengus. Sepergi Dadang dengan lukisannya, Wilson membentang kanvas baru.
***

“Ini lukisan wajah setan yang kedua,” pamer Wilson pada kenalan barunya, seorang perempuan lima puluhan yang ditinggal anak dan suami, lalu mengontrak di salah satu kamar kos. “Lukisan pertama dibeli Dadang, yang tinggal nomor tiga dari sini.”

“Untuk apa ia membeli lukisan begini?” perempuan itu berkacak.

“Ini seni, seni yang ghaib. Aku sebenarnya tak ingin menjual, khawatir pembeli akan marah.”

“Kurasa bukan pembelinya yang marah, tapi mungkin istrinya, anaknya, atau siapa saja yang lebih membutuhkan uang yang ia gunakan untuk membayarmu.”

“Dadang belum bayar. Tapi kuharap ia memegang janjinya untuk tetap membayar, walaupun nanti kanvas lukisan itu kosong.”

“Bagaimana bisa, kanvas yang sudah dilukis menjadi kosong?”

“Aku tidak bisa menjelaskan, sebagaimana kau tak akan percaya jika kubilang tadi wajah ini kubuat tersenyum. Sekarang ia menyeringai, padahal aku tak suka ekspresi seperti itu.”

Perempuan di samping Wilson nyaris tersedak mendengar ungkapan kawan barunya. “Untuk apa uang hasil penjualan itu nantinya kau gunakan?”

“Ya untuk makan. Apa lagi memangnya? Aku tak punya siapa-siapa untuk dibiayai.”
Si perempuan manggut-manggut. “Kau mau kukirimi makanan setiap hari? Tidak usah bayar, anggap saja aku kakakmu.”

“Terima kasih,” wajah Wilson berseri-seri. “Lukisan ini akan kupajang di kamarmu.”

“Tidak perlu. Aku sama sepertimu, tak punya siapa-siapa. Aku tak ingin orang yang masuk kamarku mengira itu lukisan salah satu keluargaku.”

“Berarti kau tidak menghargaiku. Aku tidak ingin makanan gratis, aku bukan peminta-minta,” Wilson merajuk.

Perempuan itu diam sesaat. Mendekat ia pada lukisan Wilson, melihatnya lebih seksama. Mata pada wajah lukisan itu berkedip. Badan si perempuan refleks tertolak ke belakang, ia mengucek mata, lalu menggeleng seperti bicara sendiri.

“Ia mengedipkan mata padamu, kan? Aku lihat itu.” Wilson membusungkan dada, menggagahkan sikap berdirinya.

“Gantunglah di kamarku, di bagian mana saja kau suka.”
Wilson segera beranjak dari tempatnya semula.
***

Dadang dan Perempuan penghuni baru saling pandang. Dahi keduanya mengernyit heran. Mereka berada di kamar perempuan itu.

“Aku sampai terbahak-bahak menertawakannya tanpa ia sadari, tapi benar saja ini terjadi. Kanvas lukisanku kosong, sama sepertimu.” Dadang mengerat dagunya dengan ujung telunjuk.

“Kuberi ia makan gratis tiap hari sekadar untuk berbagi, bukan menginginkan lukisan itu. Tapi benar katamu, apa-apa darinya yang kita pikir hanya bualan, nyata terjadi.”

Seseorang lewat, lalu melongok pada pintu kamar yang setengah terbuka. “Kalian kehilangan wajah di lukisan?” tanyanya setelah meyakini dua orang itu mengalami hal yang sama dengannya.

Keduanya mengangguk. “Kau juga?” tanya Dadang.

“Ya, lukisan yang kubeli dari Wilson,” laki-laki itu menjawab.

Dadang dan Perempuan penghuni baru saling pandang lagi. Lalu bertiga mereka menuju kamar Wilson, tapi seperti dua hari sebelumnya, kamar itu masih kosong. Wilson pergi entah ke mana.

“Kapan kiranya orang aneh itu pulang?” tanya kawan kos Dadang yang tadi baru saja bergabung.
Dadang mengangkat bahu tanpa bersuara. Kawannya menoleh pada perempuan lima puluhan, yang dilihat berlaku sama.

Satu per satu mereka kemudian mengintip lubang kunci, lalu ketiganya terperangah bergantian. Saling pandang, melongo. Sampai kemudian orang-orang berdatangan, bukan hanya para penghuni kos. Pemiliki kos-an, Pak RT, tetangga kos, tamu yang rajin bertandang, semuanya bergantian mengintip lubang kunci lalu terperangah. Semuanya telah membeli lukisan dari Wilson.

Atas izin pemilik kos-an, pintu kamar didobrak, semua orang mengucek mata. Wajah-wajah di lukisan mereka semuanya berpindah ke dinding kamar Wilson yang semula putih polos. Wajah-wajah itu semuanya menyeringai. Ada wajah anggota DPR, para menteri, KPK, BIN, dan tokoh-tokoh pemerintahan lainnya.

Kemudian seseorang berseru, “lihat ke atas!”

Ketika semuanya mendongak, wajah seorang raja menyeringai di tengah plafon.


0 komentar: