0 komentar

ADIT

CERPEN SANGAT LAMA.
CERPEN INI TERMASUK SALAH SATU PEMENANG DALAM LOMBA YANG DIADAKAN FORUS, DIIKLANIN DI ELKA SABILI, KATANYA DAPAT HADIAH DAN MO DIBUKUKAN. TAPI SAMPE DETIK INI... NIHIL MEN!! MAKANYA, JANGAN MAU JADI PENULIS!

Plak, buk… dug. Lalu, tung! Seseorang memukul kepala salah satu dari banyaknya pelajar yang sedang tawuran.
“Auw…!!” suara si penyelamat melengking panjang. Ketika yang lain bengong, ia berlari sekuat tenaga sambil membawa Fahri, ikhwan yang terjebak di antara dua kelompok pelajar yang saling serang. Fahri masih setengah sadar tapi langsung pingsan ketika mendengar suara orang yang memanggulnya. Seperti wanita, tapi terlalu ngebas!
***
Laki-laki menor dengan pakaian perempuan itu meletakkan tubuh Fahri perlahan di atas dipan, di dalam sebuah kamar sempit yang pengap. Deritan kayu dan papan dipan membuat Fahri sadar.
“Hello…,” sapa ramah si pemilik kamar, dan Fahri kembali pingsan.
“Gilingan! Dapet cowok cakep dari mana you?” tanya kawan sejenisnya yang baru saja masuk
“Ini temen eike dulu waktu es-em-pe, namanya Fahri.”
“Sumpe lo?”
“Emang eike ada tampang pembokis?”
“Tau ya, tapi kalo pembokat ada tuh!” lalu diteruskan dengan tawa yang aneh. “Ho…ho…ho….”
“Saya ada di mana?” Fahri memegangi pelipisnya yang memar.
“Eh udah….”
“Sst… you diem!” si penyelamat menarik sahabatnya yang hendak menyapa Fahri, “Plis ya, jangan pingsan lagi. Inget aku nggak?” tanyanya kemudian.
“Siapa, ya?” Fahri benar-benar keheranan.
“Aduh… ini Adit, yang dulu sering kamu traktir.”
“Biasanya Rika!” celetuk teman Adit.
“Aditya Azhar?” Fahri menebak.
“Cepek! Thanks God, you inget eike, sobat…,” Adit ingin memeluk Fahri tapi ditolak. “Eh, sori!” ia lalu memperbaiki dandanannya. “Yuk Ai, kita operasi,” Adit mengajak pergi rekannya.
Yang di panggil Ai mengangguk centil, “Yuuuk…!”
“Tunggu dulu, ini saya di mana?” Fahri mengejar keduanya.
“Di kamar aku , tunggu ya, aku cuma sebentar. Bye….”
Fahri hanya bengong, ia melongok melalui pintu. Orang-orang di luar terlihat aneh, dandanan mereka tidak seperti kebanyakan orang yang biasa Fahri temui. Ada yang bercelana sebelah panjang sebelah pendek, ada yang hanya mengenakan sport bra dengan stretch jeans, ada yang bertindik di mana-mana, dan rata-rata tubuh mereka dihiasi tato.
Bukan lingkungan yang baik, batin Fahri. Ia kembali ke kamar, tidak berani menampakkan diri di antara mereka. Ngeri.
Fahri melihat sekeliling, kamar itu sangat berbeda dengan kamarnya di rumah. Jangankan AC, jendela pun tidak ada. Lampu neon listrik tetap menyala di siang hari sebagai penerang. Kamar kecil itu hanya diisi sebuah dipan dan satu meja rias lengkap dengan kursinya. Tidak ada foto, lukisan dinding atau kaligrafi. Dinding-dinding kamar hanya dilapisi dengan koran-koran basi yang telah menguning, yang masih terbaca di antaranya memuat berita meninggalnya putri Diana bersama Dody Alfayet, lalu di lembar lain ada penjarahan disebabkan krisis moneter yang hingga kini masih melanda rakyat negeri ini (hanya rakyat!). Benar-benar basi. Dan ini benar-benar hanya sebuah kamar, bukan rumah! Mungkin kesatuan dari beberapa kamar yang saling menempel ini baru bisa dikatakan rumah, atau mungkin kamar susun meski tidak bertingkat.
Fahri kembali membuka pintu. Celingukan sambil berdoa semoga semua orang aneh tidak berada di luar sana. Doanya terkabul, secepat kilat Fahri keluar dan masuk kembali dengan muka dan anggota wudhu lainnya telah basah. Di kamar Adit tidak tersedia fasilitas wudhu, sebenarnya di luar pun tidak, hanya sebuah pancuran dari derigen bekas yang dilubangi bagian sudut bawahnya lalu disumpal dengan sepotong kayu kecil. Sebelumnya Fahri melihat seorang laki-laki gendut yang bertelanjang dada mencuci muka di sana, hanya mencuci muka.
Fahri menunaikan shalat Ashar.
“Dadaaah…,” suara yang tadi membuat Fahri pingsan. Adit pulang.
“Ntar kita-kita jemput, ya…,” suara yang lain.
Pintu terbuka dan sebuah wajah genit muncul. “Kamu blom makan kan, nih aku bawain nasi bungkus,” Adit menyodorkan sebuah kantong plastik hitam berisi nasi bungkus dan air. Fahri segera menyambut, lalu pura-pura sibuk dengan makanannya, sengaja menghindari pemandangan tidak menyenangkan di depan cermin. Adit sedang membersihkan wajahnya, mengeluarkan dua buah buntalan dari dada, lalu berganti pakaian.
“Gimana kabar kamu, Ri?” Adit menghampiri Fahri, kali ini dengan suara laki-laki biasa.
“Alhamdulillah, baik,” Fahri mengangkat wajah.
“Kamu mungkin nggak heran ngeliat aku seperti ini,” wajah Adit berubah sendu.
“Jelas aku heran.”
“Tapi dari dulu aku memang seperti anak perempuan.”
“Dan sampai sekarang kamu tetap laki-laki,” balas Fahri.
“Bukan laki-laki, tapi waria.”
Fahri diam. Suasana hening.
“Orang tuaku gak terima ngeliat aku begini, aku diusir!” Adit menghela napas, terasa berat. “Sori ya, aku gak sempat ngobatin kamu, aku sibuk.”
“Gak pa-pa, udah sembuh sendiri, kok.”
“Sudah kuliah, kan?” Adit tersenyum, berusaha terlihat bahagia.
“Iya,” Fahri menjawab singkat.
“Tampangnya ngirit sih, pantes digebukin anak es-em-a, dikira musuh, taunya mahasiswa.”
Fahri tertawa pelan, “Bisa aja kamu.”
Adit membaringkan tubuhnya di dipan yang langsung menjerit. Kreek…. “Kamu besok aja pulangnya, biar aku anter.”
“Sekarang aja, nanti umi cemas,” Fahri langsung menolak.
“Tapi aku capek, ntar malem mo ke luar lagi. Cari duit buat makan.”
“Tadi itu ngapain?”
“Ngamen.”
“Ntar malem….” Fahri menghentikan ucapannya, tidak jadi bertanya. Retorik.
“Biasalah, Ri, kerjaan banci. Jangan sok lugu, ah.” Adit membenamkan kepalanya pada bantal yang sudah tidak berbentuk bantal lagi, lembek.
“Tadi liat handphone-ku nggak, Dit?” tanya Fahri hati-hati.
Adit membuka perlahan bantalnya, “Maaf, tadi aku pingin balikin tapi dilarang sama temen-temen, katanya….”
“Ya udah, gak pa-pa,” Fahri memotong cepat.
***
Malam semakin tinggi, Adit masih tertidur. Fahri beberapa kali membangunkan, mengingatkannya untuk shalat tapi tidak berhasil. Sampai terdengar suara Ai dekaka memanggil, masih dari kejauhan.
“Hani bani bebi, Rikaku sayang… kluar dooong…!” Adit segera bangkit. Fahri keheranan. Ia berkali-kali membangunkan dengan jarak yang sangat dekat, Adit tetap bergeming, dan ketika Ai cs memanggilnya dari luar dengan jarak entah berapa kamar, teman lamanya itu langsung terjaga.
“Aku harus berangkat,” Adit menuju meja riasnya.
“Bisa nggak kali ini libur,” pinta Fahri.
“Nggak ada libur kalo masih butuh makan.”
“Aku ganti uang yang seharusnya kamu dapat malam ini.”
“Kamu bukannya mau make aku, kan?” Adit alias Rika melirik nakal pada Fahri.
“Bukan, bukan. Aku cuma nggak mau ditinggal sendiri di sini,” Fahri panik.
Adit tampak berpikir, tangan kanannya mengelus-elus pelan dagu yang tak berjenggot.
“Sori, Nek, eike gak bisa jalan malam ini, gak enak body, nih!” Adit kemudian beralasan pada teman-temannya yang baru sampai.
“Makasih,” Fahri menang. “Kamu tinggal sendirian di kamar ini?” tanyanya kemudian.
“Berdua dengan Rudi,” Adit kembali ke kamar dan menutup pintu.
“Siapa tuh?”
“Temen satu profesi.”
“Sekarang dia di mana?”
“Pulang kampung, bokapnya sakit. Dia sih enak, masih diterima keluarganya.”
“Kamu juga bisa begitu.”
“Klasik, asal tobat. Bener kan?” Adit mencibir.
“Emang klasik, tapi bukan cuma keluarga kamu yang menerima, seluruh dunia!”
Adit tercenung cukup lama, ia menatap Fahri dalam. “Kamu lebih beruntung, Ri.”
“Menurut siapa?” Fahri balik menatap Adit, “Keberuntungan nggak bisa dinilai dari segi duniawi, dunia hanya sementara. Hanya orang-orang bertakwa yang dianggap beruntung,” lanjutnya.
“Kamu nyambi jadi ustadz, ya?” canda Adit.
“Kamu mau kan jadi muridku, sebentaaar aja,” Fahri membalas.
“Setan! Gila…. Gak ada urusan kali tuh orang!” seorang waria tiba-tiba masuk tanpa permisi.
“Ada apa, Na?” tanya Adit terkejut.
“Ada razia, Nina diuber-uber sampe depan kuburan sana,” teman Adit mengadu manja. Fahri hanya menonton.
“Trus yang lain gimana?” Adit tampak cemas.
“Gak tau, tapi tadi Nina liat Ai ketangkep.”
Fahri dan Adit saling pandang
“Eh, kenalan, dong! Rika punya gebetan diumpetin aja,” Nina mengulurkan tangannya pada Fahri, Fahri membalas dengan dua telapak tangan yang dirapatkan ke dada. Adit cekikikan, Nina manyun, Fahri rada ketakutan.
“Oh ya, kita mesti pindah ke tempat lain, kabarnya tempat ini bakal digusur,” Nina menyampaikan kabar buruk dengan ekspresi biasa.
“Lagi-lagi begini,” Adit mengeluh. Nina segera pergi demi melihat suasana yang kurang menyenangkan.
“Kamu mau tinggal denganku?” Fahri memberi tawaran tak terduga setelah Nina tidak berada di antara mereka.
Adit menggeleng lemah, “Keluarga aku sendiri aja gak mau nerima, apalagi orang lain.”
“Ya nggak dengan dandanan seperti ini.”
“Kalau bisa berubah, aku lebih baik pulang.”
“Semua kan butuh proses, sampe tua juga kalo nggak diusahain gak bakal bisa.”
“Kamu yakin mau ngajak aku?”
“Banget!” jawab Fahri mantap.
“Aku nggak punya pakaian cowok.”
“Aku punya banyak.”
“Buat ke sananya?’
“Kita keluar, aku pulang duluan. Kamu tunggu aku di suatu tempat, nanti aku jemput.”
Keduanya lalu keluar tanpa membawa sesuatu pun dari kamar berukuran sangat kecil itu.
***
“Masya Allah! Kamu ke mana aja, Nak?” ibu Fahri memeluk anaknya yang belum sampai ke pintu rumah. Adit tidak menjawab.
“Mukanya kenapa?” ibu dan adik Fahri langsung bertanya saat lampu di ruang keluarga menerangi wajahnya yang lebam.
“Abi mana?” Fahri menyapu pandangan ke seluruh sisi ruangan tempat ia berdiri, ayahnya biasa menonton berita atau membaca koran di sana.
“Abi baru saja keluar, mau lapor polisi.” Farah, adik Fahri yang menjawab.
“Sekarang dalam perjalanan pulang, barusan Umi kasih tau kalau kamu sudah pulang,” ibunya melanjutkan.
“Tuh muka kenapa?” Farah masih penasaran.
“Ntar aja, tunggu Abi udah di rumah.” Fahri meninggalkan keduanya, menuju kamar. Kamar yang lebih baik dari kamar Adit.
Setelah sang ayah berada di rumah, Fahri menjelaskan kenapa ia baru pulang, di mana ia tinggal, dan siapa yang menyelamatkannya. Tapi, ia tidak menceritakan bahwa Adit, sahabat lawasnya itu adalah seorang waria. Abi membolehkan Adit tinggal bersama mereka, Fahri bahkan diminta secepatnya menjemput Adit yang diakuinya sebagai seorang penyemir sepatu yatim piatu.
“Ingat! Kamu laki-laki dan kapan pun akan tetap laki-laki,” pesan Fahri pada Adit dalam perjalanan di mobil Fahri. Adit hanya mengangguk. Dari jendela mobil ia melihat beberapa waria dan WTS kocar kacir diserbu petugas, hatinya getir. Ia ingin menolong, tapi….
“Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, tapi mulailah dari diri sendiri. Insya Allah di lain waktu kamu bisa menolong mereka,” hibur Fahri pada Adit yang mulai menangis.
Abi paling bersemangat dalam menerima Adit sebagai anggota baru. Beliau dengan rajin mengajari Adit segala hal, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrowi. Dari masalah akidah, tilawah, ekonomi, politik, hingga beladiri. Abi adalah pimpinan sebuah pesantren yang terjun ke berbagai bidang dan gigih memperluas dakwah. Fahri tentu senang dengan semua itu, hanya saja, ia sering kesal dengan kebiasaan Adit berkutat dengan mesin jahit. Mending kalau dibongkar, Adit malah membuatkan rok panjang untuk Farah! Untunglah umi tidak curiga. Di lain waktu kesalahan datang dari Fahri sendiri. Ia dengan sengaja meninggalkan Adit bersama Farah di dapur tanpa orang lain. Umi buru-buru menjadi orang ketiga sambil mengomel panjang pada Fahri. Fahri pucat, tapi ia bukan mencemaskan Farah dan Adit, melainkan Umi, jangan-jangan wanita lembut itu tahu, bahwa Adit punya ‘kelainan’.
Fahri hanya bisa mengandalkan doanya lalu bersusah payah menjauhkan Adit dari segala hal yang berbau perempuan. Adit dengan genitnya malah menggoda, “Awas Akhi, kita kan bukan mahrom!” ih.
***
Di suatu subuh, di mushalla rumah. Fahri mengimami shalat menggantikan Abi yang sedang ke luar kota. Tapi makmum Fahri hanya dua orang, umi dan Farah. Selesai berdoa, Fahri bertanya pada umi tentang Adit yang menghilang.
“Tadi malam ia berangkat bersama abi,” jawab umi datar.
“Emang apa hubungannya urusan abi dengan Adit?” Fahri khawatir kedok Adit terbongkar.
“Mana Umi tahu, pekan depan tanya aja langsung ke abi.”
“Pekan depan?” Fahri mendesah pelan disaksikan Farah.
“Kenapa, Kak?”
“Nggak ada apa-apa,” Fahri kembali berdoa. Umi dan Farah saling pandang.
“Bukannya tadi sudah selesai?”
“Au’,” Farah mengangkat bahu dan menarik ibunya ke luar mushalla.
Waktu satu pekan dirasa bagai sebulan oleh Fahri. Adit tidak mendapat anggaran untuk membeli handphone, menelepon abi? Fahri sangsi.
Tapi akhirnya waktu yang lama itu tiba juga. Jam 2 siang. Umi bilang, abi sampai di rumah usai makan siang.
“Gelisah amat sih, Kak?” Farah ikut menunggui abi di teras. Fahri bungkam.
“Jam lima sore ntar kan juga abis makan siang, jam delapan malam juga, jam satu pagi juga….”
Brum…. Belum lagi Farah menyelesaikan kalimatnya, Mobil abi tiba di depan pagar. Tanpa diklakson Fahri membuka lebar pagar, mempersilakan Terrano hitam itu masuk. Abi keluar dari mobil membawa koper coklat dan satu tas oleh-oleh untuk keluarganya. Sendirian tanpa Adit.
Fahri memeriksa dengan teliti, dipandanginya seisi mobil, garasi hingga pintu pagar. Adit tidak ditemukan.
Fahri tidak berani bertanya, pikirannya kacau. Abi, umi dan Farah tidak menyinggung soal Adit.
***
“Tidak tanya soal Adit, Ri?” tanya abi saat makan malam. Akhirnya.
“Nggak rindu, nih?” goda Farah.
“Kata umi pergi sama abi, Fahri kan percaya abi,” Fahri tampak kaku.
“Kalau kamu percaya sama abi, kenapa mesti bohong?” umi menatap Fahri yang mulai salah tingkah.
“Maksud Umi?”
“Begini, Nak,” Abi meneguk air putih di depannya, kemudian, “kamu kan tahu kalau Abi orang dakwah, bermacam-macam orang Abi temui di lapangan. Dari konglomerat, mafia, pecandu narkoba sampai gay dan lesbian. Memang tidak semuanya berhasil hijrah tapi Abi punya pengalaman tentang mereka, termasuk Adit.”
Fahri menunduk, piring kosong tempat ia menjatuhkan pandangan segera dibereskan Farah. Tidak ada satu pembantu pun di rumah itu.
“Dari gerak-geriknya, Abi tahu kalau Adit waria.”
“Lalu sekarang?” Fahri penasaran.
“Syukurlah kamu cepat membawanya kemari,” abi tersenyum.
“Adit sekarang di mana, Bi?” Fahri makin tidak sabar, tapi ia yakin ini adalah ending yang baik
“Di pondok.”
“Tinggal di asrama?” Fahri girang.
“Iya, sebelumnya Abi ingin langsung mengirimnya ke sana, tapi Abi takut dia kabur karena tidak betah, makanya Abi lakukan pendekatan dulu, dan ternyata tanpa diminta Adit lebih dulu meminta supaya Abi mendaftarkannya di sana.”
“Alhamdulillah…,” Fahri tersenyum lebar. Sangat bahagia.
“Kok nggak nanya alasan kak Adit ke pesantren?” Farah kembali ambil suara, seketika Fahri menyimpan senyum lebarnya.
“Kenapa, Bi?” gantian abi dan umi yang tersenyum, nyaris tertawa.
“Katanya… kalau di sini terus menerus, dia jadi naksir kamu.”
Telinga Fahri memerah, ditambah dengan pernyataan Farah yang meyakinkannya. “Suer! Ini beneran.”
***
“Kenapa bengong, Dit?” sapa Mahmud, teman baru Adit di pesantren al-Hidayah.
“Ternyata…, cowok di sini cakep-cakep!”
Gubrak! Mahmud pingsan, tapi Adit tidak membawanya ke kamar.

Kamar belakang, 4/3/05

2 komentar

DOWNLOAD BULETIN ANAK GRATIS!!!

mungkin bisa jadi inspirasi kawan2 untuk menulis, buletin sederhana berisi karya anak2 SDIT Nurul Ilmi Jambi. sila unduh di sini, gratis selamanya!