0 komentar

cerpenku yang jadul, estede, en kacau!

AKU PANTAS MENOLAKNYA

“Afwan ya, Dik. Kakak lupa bawa biodata ikhwan itu” Kak Imas benar-banar tampak menyesal, padahal aku tidak begitu penasaran. Kalau memang jodoh insya Allah ketemu juga.

“Gak pa-pa, Kak” jawabku seadanya

“Kok Sila nggak tanya ciri-cirinya, apa belum siap?”

“Insya Allah siap, Sila cuma nggak mau Kakak kelewat merasa bersalah gitu, hehe…. Oke, sekarang minta ciri-cirinya deh!”

“Tingginya seratus tujuh lima, berat tujuh puluh, kulit coklat…” Kak Imas berpikir sebentar untuk mengingat-ingat

“Tempat tanggal lahir…” kubantu beliau berpikir

“Jambi, dua tujuh Januari delapan dua”

“Kakak yakin?”

Kak Imas tidak segera menjawab, beliau menangkap kegelisahan di mataku. “Yakin, kenapa?”

Aku menggeleng pelan tanpa suara.

“Seingat Kakak, saat memberi taujih anti pernah bilang bahwa orang-orang di liqo’ adalah keluarga kedua”

Silakan berbagi susah dan senang, kira-kira begitulah terjemahan kalimat murabiku ini.

***

“Sori La, aku khilaf!” Edwin tertunduk pasrah

“Minta maaf emang gampang”

Cowok itu tetap bergeming

“Nggak usah khawatir, aku udah maafin kamu” aku berucap lembut, berusaha tetap tenang walau sebenarnya ada yang ingin kumuntahkan dari dada yang sering kali menyimpan kekesalan pada orang yang pernah kukasihi itu.

“Aku tahu, kamu selalu punya banyak persediaan maaf untukku” Edwin tersenyum lega

“Tapi itu yang terakhir kalinya kamu sakiti aku, karena hubungan kita cukup sampai di sini” kutinggalkan Edwin yang baru saja hendak menyentuh tanganku, ia terlihat syok.
“Sila…, Sila!”

Kubiarkan mantanku menggedor-gedor jendela taksi, dan sang supir pun terus melajukan sedannya.
Di dalam taksi aku bersenandung pelan menyanyikan beberapa nasyid bertema cinta, cinta sebenarnya kepada yang pantas untuk dicintai, waktu itu aku belum terbiasa berdzikir. Seorang teman akhwat yang mengetahui hobiku mendengar musik memberikan kado perpisahan berupa sebuah MP3 nasyid dan CD murottal dengan terjemahnya.

Seharusnya kuucapkan dulu terimakasih pada Edwin, yang karenanya aku benar-benar menyimak syair-syair dalam alunan nada-nada relijius pemberian Nasywa, teman akhwatku semasa SMA. Kalau tidak sedang patah hati akibat perbuatan Edwin yang untuk kesekian kalinya menduakanku, entah kapan aku bakal menikmati indahnya syair nasyid apalagi kalam Ilahi yang selama ini hanya kubaca tanpa tahu maknanya.

Alhamdulillah, aku bersyukur padaNya yang menuntunku ke kehidupan baru dalam cinta yang tak kenal patah hati dan berkumpul dengan orang-orang yang begitu ikhlas mengangkatku sebagai saudara meski kami tak satu kandungan.

***

“Ukhti yakin, nama ikhwan itu bukan Fadli?”
Abu Husein kemudian diam sejenak, lalu beliau memintaku membaca ulang biodata yang baru kemarin sampai ke tanganku.

“Namanya Edwin Bahtiar, walaupun punya saudara di Jakarta, dia lebih suka kos. Waktu Sila masih SMA dia kuliah di IKJ, entahlah kalau sekarang”

“Betul-betul tidak salah orang?”

“Ana juga punya foto itu, sepekan yang lalu dia kirim via imel” kuletakkan lagi biodata dan foto Edwin di atas meja lebar di depan kami.

“Akhi kecolongan” Kak Imas nimbrung, beliau yang mempertemukan aku dengan Abu Husein, murabi liqo’ ikhwan tempat Fadli alias Edwin mengaji.

“Kita tidak boleh su’uzhan, mungkin Fadli atau Edwin sungguh-sungguh ingin hijrah dan kebetulan Ukh Sila juga akhwat, lalu Edwin merasa sudah cukup kenal dan… ingin mengkhitbah”

“Ana kenal betul dengan Edwin, dia belum hijrah”

“Tahu dari mana?” Kak Imas memicing

“Dua hari lalu Sila lihat dia merokok dan satu mobil dengan teman cewek”

“Di mana?”

“Siapa tahu itu mahramnya”

Abu Husein dan Kak Imas berucap hampir bersamaan
“Pas lagi antre di tol Jagorawi, mobil yang Sila tumpangi bersebelahan dengan mobil Edwin, dan yang duduk di sebelahnya punya nama Virly, comblang kita dulu”

Abu Husein dan Kak Imas tak punya kata-kata lagi.
“Antum jangan panik, kita bisa cari solusi sama-sama” akhirnya Kak Imas bersuara kembali

“Bagaimana kalau masalah ini kita angkat dalam rapat ahad?” Abu Husein membuka agendanya

“Kenapa nggak?!”

***

Satu lagi surat dari Edwin di inboxku, entah bagaimana ekspresinya saat mengetik surat tersebut hingga aku tak bisa menerjemahkan maksudnya, ancamankah?

Apa dan bagaimanapun caranya, aku pasti mendapatkanmu.

Karena kamu tercipta hanya untukku.

Yang jelas, ia ingin melangkahi Rabbnya, Yang Maha Berkehendak.

0 komentar

MENJADI ANAK PENCURI

karya: Athifah

Namaku Alifa Rizki, aku biasa dipanggil Kiki. Di rumah aku menanyakan sesuatu pada Ibu, “Ibu, ayahku di mana? Mengapa kita nggak pernah ketemu Ayah?”

“Kiki, ayahmu sibuk, sampai-sampai tidak bisa bertemu denganmu, Nak,” jawab Ibu.

“Tapi Kiki tidak pernah bertemu Ayah,” kata Kiki sambil berlari menuju kamar.

Lalu ada yang mengetuk pintu rumah itu. Karena terkejut, Kiki lalu membukanya.

“Kamu siapa?” tanya Kiki kepada seorang lelaki tua yang di depannya.

“Ayahmu, Nak,” kata laki-laki tua itu.

Lalu Kiki langsung memeluknya, kemudian memanggil ibu, “Ibu, ada Ayah.”

Ibu langsung berlari menuju ruang tamu, lalu mengajak Ayah masuk ke kamarnya, lalu membaringkannya karena ia kelihatan kecapekan.

Sesudah makan malam, kami bertiga langsung sikat gigi dan tidur (karena bukan orang Islam).

Malam harinya Kiki mau pipis, Kiki langsung ke kamar mandi yang letaknya di dekat ruang tamu.

Saat di depan kamar mandi, Kiki nampak ada bayangan. Kiki lalu mendekatinya, rupanya itu ayahnya yang sedang memakai baju pencuri. Lalu ayah Kiki bilang kepada Kiki, “Kiki jangan bilang Ibu kalau Ayah pencuri.”

Kiki menyesal mempunyai ayah pencuri.


---
athifah adalah salah satu siswa lincah di kelas fiksi Sekolah Menulis 'Aifah. cerpen ini sudah bikin salah satu temannya, fatimah, ngakak seru karena sudut pandang tokoh yg berubah2. its ok, apa salahnya keliru, itu bagian dari proses. wong athifahnya aja keukeuh, "dak papalah, kan nama akunya kiki!" serunya berapi-api.
fatimah makin ngakak. aku sih milih mingkem