cerpen belum selesai


cerpen lama, pas rame2nya org pd nyaleg. sampe pohon2 pd bongkok nahan foto jelek mereka. pengennya disayembarain, siapa yg bisa nerusin dpt hadiah!


“Partaiku bikin harga-harga pada turun.”
“Dikerjain. Dulu juga harganya segitu, dinaikkan, lalu dikembalikan ke semula. Jadi orang-orang model kamu, bilang harganya turun!”
“Maksudnya orang-orang model kamu itu apa?”
Anto nyengir, tanpa menjawab.
“Kamu mau bilang, ini pembodohan? Strategi politik?” Maman melotot.
“Bayi juga tau, Man!” Anto mengibaskan handuknya. Lalu menuju kamar mandi setelah melihat Ayub keluar dari ruang kecil itu.
“Jangan lama-lama, To, nanti ada yang mau bagi-bagi sarung di lapangan sebelah!” teriak Maman mengingatkan.
“Besok kalau sudah dapat kursi, mereka akan bagi-bagi pulau, laut, hutan. Tapi dengan para bule, bukan kalian.” Byuur, disambung suara siraman air. Sengaja untuk menelan bantahan Maman dari luar. Padahal Maman hanya ingin bilang, makruh bicara di kamar mandi.
Para perantau yang jadi pekerja kasar itu, menempati bedeng temporer hasil bangun sendiri di sebelah proyek garapan mereka. Tak perlu tivi untuk mereka tahu kabar perpolitikan negri ini. Di depan mata mereka, terbentang jalan raya yang bercerita banyak. Lebih detail dari yang bisa diceritakan reporter media elektronik.
Di aspal dua arah itu, ada berbagai atribut partai sempal menyempal berebut lahan. Ayub menyebutnya sampah dari para sampah. Maman yang selalu optimis menganggap itu persaingan menguntungkan; ia bisa mengoleksi berbagai kaos dari bertabur acara gelaran para caleg. Anto, meski tak cukup sekolah—hanya sampai SMP—paling pandai melambung dan menghancurkan. Jika seseorang menghina sebuah partai, ia akan membela partai itu habis-habisan, meski tak kenal sebelah badan pun satu dari sekian caleg partai yang ia bela. Sebaliknya, jika ada yang memuji satu partai, maka dengan penuh semangat ia banting-banting harga diri partai tersebut, tak peduli di depan fungsionarisnya sekalipun.
***

“Caleg yang kau sebut beriman gara-gara jilbabnya itu, kulihat meramal nasib orang dengan sisa kopi!”
“Aku tidak menyebutnya beriman, tapi ia sendiri yang mengaku demikian. Kubaca di kalender pemberiannya.”
“Peduli apa dengan jilbab dan kopinya, yang penting ia berani modal. Daripada partai itu.” Maman mengarahkan telunjuknya pada satu reklame berisi foto orang berbaris. “Satu baliho untuk rame-rame, kalau keliling cuma bagi-bagi stiker.”
“Setuju.” Maman meninju udara di atasnya.
“Tapi stiker itu sering kulihat di daerah-daerah bencana.”
“Apa mereka partai kutukan, di mana-mana melahirkan bencana?”
Maman dan Ayub terkekeh bersamaan.
“Bodohnya kawanku. Mereka itu peduli kepada sesama.”
“Kecuali pada kita. Masak sudah bela-belain datang, cuma dikasih ceramah. Apa bisa kenyang??”
Terkekeh lagi.
“Tahu kan kalian, yang banyak mengeluarkan modal akan berusaha mati-matian menutup kembali modal mereka saat berkuasa?”
“Manusiawi, To. Pedagang saja tidak ada yang mau rugi.”
“Kalian pikir ini dagang?”
“Lalu apa lagi? Mereka datang, beri uang, sarung, kalender, baju, dan ditutup pesan: pilih saya!”
“Haha, bodoh lagi. Barang-barang tak lebih lima puluh ribu itu kalian bayar dengan lima tahun hidup dijajah. Tak cukupkah dijajah bangsa sendiri tiga puluh dua tahun itu?”
“Alah, bangsa sendiri ya tak masalah. Seagama lagi.”
“Partaimu partai kampret. Calegnya tidak punya perasaan, masak pohon dipaku!”
“Ya kalau tidak dipaku, lalu diapakan?”
“Jangan kamu yang mikir. Calegnya kamu suruh lahirkan ide. Untuk urusan remeh saja dia pilon, apalagi ngurusin rakyat!”

0 komentar: