2 komentar

nulis cerpen dibayar

nah, ini nih yg menarik (sebagian) org2 buat bikin cerpen. gak masalah sih punya niat yg mengandung unsur matre', toh hidup emang butuh duit. masalahnya, kualitas karya kita pantes gak sih buat diduitin? makanya, berkarya aja trus, kirim2 ke tari84@ipal.com tar biar dikomen oleh para ahli dan penikmat cerpen (insyaallah kukirim ke imel2 penulis kelas menengah ke atas, kenalanku).

inilah proses, saatnya nanti, baru kita bisa ngomong duit untuk karya yg sdh "terukur". selamat nyari duit! eh, selamat nulis!

0 komentar

cerpen belum selesai


cerpen lama, pas rame2nya org pd nyaleg. sampe pohon2 pd bongkok nahan foto jelek mereka. pengennya disayembarain, siapa yg bisa nerusin dpt hadiah!


“Partaiku bikin harga-harga pada turun.”
“Dikerjain. Dulu juga harganya segitu, dinaikkan, lalu dikembalikan ke semula. Jadi orang-orang model kamu, bilang harganya turun!”
“Maksudnya orang-orang model kamu itu apa?”
Anto nyengir, tanpa menjawab.
“Kamu mau bilang, ini pembodohan? Strategi politik?” Maman melotot.
“Bayi juga tau, Man!” Anto mengibaskan handuknya. Lalu menuju kamar mandi setelah melihat Ayub keluar dari ruang kecil itu.
“Jangan lama-lama, To, nanti ada yang mau bagi-bagi sarung di lapangan sebelah!” teriak Maman mengingatkan.
“Besok kalau sudah dapat kursi, mereka akan bagi-bagi pulau, laut, hutan. Tapi dengan para bule, bukan kalian.” Byuur, disambung suara siraman air. Sengaja untuk menelan bantahan Maman dari luar. Padahal Maman hanya ingin bilang, makruh bicara di kamar mandi.
Para perantau yang jadi pekerja kasar itu, menempati bedeng temporer hasil bangun sendiri di sebelah proyek garapan mereka. Tak perlu tivi untuk mereka tahu kabar perpolitikan negri ini. Di depan mata mereka, terbentang jalan raya yang bercerita banyak. Lebih detail dari yang bisa diceritakan reporter media elektronik.
Di aspal dua arah itu, ada berbagai atribut partai sempal menyempal berebut lahan. Ayub menyebutnya sampah dari para sampah. Maman yang selalu optimis menganggap itu persaingan menguntungkan; ia bisa mengoleksi berbagai kaos dari bertabur acara gelaran para caleg. Anto, meski tak cukup sekolah—hanya sampai SMP—paling pandai melambung dan menghancurkan. Jika seseorang menghina sebuah partai, ia akan membela partai itu habis-habisan, meski tak kenal sebelah badan pun satu dari sekian caleg partai yang ia bela. Sebaliknya, jika ada yang memuji satu partai, maka dengan penuh semangat ia banting-banting harga diri partai tersebut, tak peduli di depan fungsionarisnya sekalipun.
***

“Caleg yang kau sebut beriman gara-gara jilbabnya itu, kulihat meramal nasib orang dengan sisa kopi!”
“Aku tidak menyebutnya beriman, tapi ia sendiri yang mengaku demikian. Kubaca di kalender pemberiannya.”
“Peduli apa dengan jilbab dan kopinya, yang penting ia berani modal. Daripada partai itu.” Maman mengarahkan telunjuknya pada satu reklame berisi foto orang berbaris. “Satu baliho untuk rame-rame, kalau keliling cuma bagi-bagi stiker.”
“Setuju.” Maman meninju udara di atasnya.
“Tapi stiker itu sering kulihat di daerah-daerah bencana.”
“Apa mereka partai kutukan, di mana-mana melahirkan bencana?”
Maman dan Ayub terkekeh bersamaan.
“Bodohnya kawanku. Mereka itu peduli kepada sesama.”
“Kecuali pada kita. Masak sudah bela-belain datang, cuma dikasih ceramah. Apa bisa kenyang??”
Terkekeh lagi.
“Tahu kan kalian, yang banyak mengeluarkan modal akan berusaha mati-matian menutup kembali modal mereka saat berkuasa?”
“Manusiawi, To. Pedagang saja tidak ada yang mau rugi.”
“Kalian pikir ini dagang?”
“Lalu apa lagi? Mereka datang, beri uang, sarung, kalender, baju, dan ditutup pesan: pilih saya!”
“Haha, bodoh lagi. Barang-barang tak lebih lima puluh ribu itu kalian bayar dengan lima tahun hidup dijajah. Tak cukupkah dijajah bangsa sendiri tiga puluh dua tahun itu?”
“Alah, bangsa sendiri ya tak masalah. Seagama lagi.”
“Partaimu partai kampret. Calegnya tidak punya perasaan, masak pohon dipaku!”
“Ya kalau tidak dipaku, lalu diapakan?”
“Jangan kamu yang mikir. Calegnya kamu suruh lahirkan ide. Untuk urusan remeh saja dia pilon, apalagi ngurusin rakyat!”

3 komentar

SEBAB CINTA


ini cerpenku yang gak laku. kelas koran lokal aja ditolak, daripada mubazir ide, mending pajang di sini toh!

Kupikir hanya orang-orang bodoh yang rela mati demi cinta. Di saat orang lain dengan tenang berganti-ganti pasangan, ada yang baku hantam, bahkan dengan dirinya sendiri, demi mempertahankan cinta. Kini, kebodohan itu mewabahi tiap sel tubuhku. Kebodohan paling bodoh dalam sejarah hidupku. Ketika saat ini, di pinggir jurang seram ini, aku ingin mati gara-gara cinta.
***
Aku menang! Teriakku hari itu. Laki-laki yang sebelah tangan kucintai berpisah dari kekasihnya. Akulah racun di antara mereka. Aku yang membunuh rasa itu dari hati laki-laki yang sejak dulu kuinginkan. Dia sahabatku dulu, yang hingga kini masih menganggapku sahabat. Bodoh, atau tak punya perasaan?
Hanya dua bulan setelah termakan berita fiktif dariku—yang mengakibatkan ia berpisah dari kekasih lamanya—, laki-laki itu telah berpasangan lagi. Tapi bukan denganku. Aku sama sekali tak menangis. Karena aku tidak bodoh. Saat itu.
Kini di pinggir mulut maut, aku tersedu-sedu. Apa ini? Di mana keadilan jika setiap hari aku hanya menyaksikan hal-hal menyakitkan. Kutatap lurus lintasan yang akan kulalui dalam menjemput maut. Nanti aku akan berteriak lantang, ambil nyawaku!
Airmataku deras, membuatku tak mampu lagi melihat ada apa di depan sana. Hanya kepalan tanganku merasakan dinginnya tanah hitam beserta rumput yang kucabik-cabik geram. Menyesalkan takdir yang tak pernah memihakku.
“Inilah hidup. Ketika kau mampu mendapatkan apa yang kau inginkan,” kata laki-laki itu suatu waktu. Kami tengah berdua, tanpa pacarnya. Tapi selama dua jam bersama itu, ia hanya menceritakan pacar barunya yang berhasil ia tarik hatinya dalam waktu sebulan saja. Dadaku bergemuruh, ada gerimis yang membadai di sana. Tapi mataku tetap berbinar. Aku tidak menangis.
“Kenapa perempuan gampang sekali ditaklukkan?” tanyanya padaku. Seringai angkuhnya kurasa bagai senyum magnetik yang melambungkan. Aku akui, pandanganku pasti keliru. Tapi kunikmati saja sambil menyeka sisa-sisa badai di hatiku.
“Perempuan memang lemah, tapi tidak sepatutnya kau perlakukan begitu.”
“Apa yang kulakukan?” tanyanya lagi.
“Kau melambungkan hati seseorang, lalu menghempaskannya. Dan kau pun tak peduli pada orang-orang di sekitar yang benar-benar mengharapkanmu.”
“Semua orang memang mengharapkanku, tapi aku tentu tak bisa jadi milik semua orang. Aku adalah aku, milikku sendiri. Aku yang paling berhak menentukan dengan siapa aku menempatkan diri.”
Dia benar. Dan aku hanya diam, yang seolah mengiyakan. Pilu memang. Tapi aku bahkan tak pernah meneteskan sebutir airmata pun di hadapannya.
“Kau sahabat terbaikku, kau yang paling mengerti aku,” lanjutnya seraya melingkarkan lengannya di pundakku. Aku bisu.
Kabur di mataku perlahan memudar, meski kurasa, ada sembab yang muncul mengitari lingkar dua mataku. Batas pandangku merapat, seperti ada tarikan yang menyebabkannya. Kudengar isakku sendiri di antara hening yang sejak tadi membersamaiku tanpa peduli. Kuseka air yang membasahi bawah hidungku. Kurasakan dahsyatnya sakit sebab cinta.
Menit ke menit berlalu. Kurapatkan mata, menikmati detik-detik akhir usiaku. Suasana masih hening. Hingga isakku reda, pandanganku masih gelap tanpa latar suara.
Semua diam. Semua hitam. Tapi kemudian, kulihat kilatan cahaya, ada suara-suara berteriak memilukan. Nun jauh di sana, ada api membara. Di dalamnya kusaksikan orang-orang dipaksa menggorok lehernya berulang-ulang, atau memasukkan racun ke dalam mulutnya, atau memutus urat nadinya, atau menembak kepalanya. Mereka tidak hidup dan tidak mati. Mereka meraung, tapi tangannya tak terkendali. Mereka melakukannya terus-menerus. Kulihat seorang perempuan melompati jurang, tergeletak menggelepar, badannya hancur, lalu kembali semula. Kemudian ia melompat lagi, menggelepar lagi, hancur, utuh, lalu melompat lagi.
Kupaksa membuka mata!
Napasku turun naik begitu cepat. Ini jauh lebih menyakitkan dari sekadar luka cinta. Kuedar pandangan, menyapu sekeliling. Tak seorang pun di sini. Tak ada yang bisa mencegahku mengakhiri niat yang tinggal seinci. Tapi aku merasa ada yang mengawasi. Hingga kakiku refleks mundur dari bibir jurang. Tiba-tiba aku takut mati.
Aku berlari menjauhi tempat yang sejak kemarin kutuju. Tak lagi mengingat apa itu cinta, betapa pun sakitnya. Aku lupa pada laki-laki itu, pada kekasihnya, pada senyumnya.
Dalam langkah dan lompat cepatku, beban-beban yang tadi kubawa seolah lepas temali. Jatuh berkeping-keping, lalu menggantikanku mengarungi jurang. Aku masih berlari, hingga sisa air di mataku menguap diambil alih udara, bahkan tanpa menyisakan secuil warna merah pun. Aku merasa seperti menjauhi sesuatu dan mendekat pada sesuatu yang lain. Aku tidak melarikan diri dari maut, tapi hendak mempersiapkan diri hingga ia datang nanti.
Makin jauh aku dari jurang itu, makin ringan kurasa. Kakiku enteng melayang, punggungku seolah kian tegap setelah tadi terbungkuk-bungkuk menahan beban. Aku datang, aku datang, entah pada siapa kukatakan itu. Aku terus berlari, menjauh. Kurasa ada senyum yang tersungging tanpa kusengaja.
Kurasakan jalar kebodohan bertolak balik, akalku menyempurna kembali. Dan ketika kakiku mantap berhenti, kukatakan pada diriku, aku hanya perlu menangis. Tapi tidak di sini.