0 komentar

DI SINI, CERPENMU DIBAYAR!!

Setelah keliling2 hingga berpeluh, ternyata susah ya nemuin situs yang mau bayar cerpen yang dimuat. Gak usah panjang2, gini deh. Sekolah Menulis ‘Aifah berbaik hati memberikan APRESIASI berupa PULSA Rp 25.000 kepada penulis cerpen yang karyanya dimuat di blog ini.
Syaratnya:

1. Karya orisinil 3-7 halaman A4, TNR 12pt atau Calibri 11, spasi 1,5

2. Tema bebas

3. Dikirim ke sm-aifah@hotmail.com atau sy.lestari@gmail.com dengan subjek: Cerpen Belajar Fiksi

4. Sertakan nomor HP untuk dikirimi pulsa:)

5. Penulis yang naskahnya dimuat, wajib mengundang MINIMAL 5 teman, keluarga, kenalan, dll ke blog Belajar Fiksi untuk MEMBERI KOMENTAR tentang cerpen tsb.

6. Hak atas karya tetap ada di penulis, boleh diterbitkan lagi ke media lain dengan mencantumkan keterangan "pernah dimuat di www.belajarfiksi.blogspot.com"

Jangan tunggu lama2 ya, info ini juga disebarkan via sms, jadi bakal banyak sainganmu. Segera, tulis sekarang!

0 komentar

BERJUANG ATAU MENGALAH!

Menarik sekali apa yang disampaikan Didik Wijaya pada situs www.escaeva.com setahun lalu. Dalam tulisan berjudul Not In the Mood itu, penulis memberikan dua solusi unik untuk masalah suasana hati yang kerap menjangkiti para penulis. Terus terang, saya sendiri tidak mengenal siapa itu Didik Wijaya. Entah yang bersangkutan kurang terkenal, atau memang saya yang kurang gaul. Tapi apalah artinya semua itu, toh saya lebih menyukai ilmu seseorang ketimbang namanya.

Jika kita sedang badmood, (ini asli kalimat saya, bukan hasil kopipes!) biasanya ide yang muncul tidak akan mengalir dengan mudah. Syukur-syukur jika masih mampu menerbitkan ide, terkadang kepala betul-betul kosong dari hal-hal kreatif.

Sudah disediakan cemilan, minuman penambah energi, plus deretan mp3 yang berdendang dari program Winamp untuk modal begadang, tapi tulisan masih mentok tidak bertambah satu alinea pun! Jangan panik dengan menjudge diri tak berbakat menjadi penulis, dua hal yang disarankan Didik mungkin bisa jadi solusi:

Pertama, paksa diri untuk terus menulis! Konyol, demikian komentar Didik sendiri. Padahal tidak. Bisa jadi, justru ‘amunisi’ yang kita siapkan itulah penyebab matinya ide di kepala.

Bertekadlah, bahwa kita harus tetap menulis. Matikan musik yang mengalun, singkirkan cemilan, konsentrasi! Lalu rasakan nikmatnya perjuangan setelah tulisan tadi usai dirampungkan.

Kedua, lakukan sebaliknya. Ketika kita sudah mati-matian membunuh mood jelek, dan tidak berhasil, maka mengalahlah! Mungkin kita sedang jenuh, penat, atau kelelahan. Matikan saja komputer, beralihlah untuk membaca buku, nonton tv, atau jalan-jalan. Siapa tahu, ada ide yang tercecer, dan kita bisa memungutinya dalam keadaan yang lebih fresh.

Satu hal yang tidak ditekankan Didik Wijaya dalam tulisannya, bahwa kita harus berada di tengah keduanya agar selalu imbang. Terlalu condong pada pilihan pertama dikhawatirkan membuat kualitas karya kita anjlok karena hasil ‘kerja paksa’. Terlalu sering mempraktikkan yang kedua pun sangat tidak sehat, karena jika berkepanjangan, mampu mematikan insting penulis yang telah dipupuk lama. Nyaris tidak ada keajaiban dalam dunia tulis menulis, semuanya butuh proses yang harus berkesinambungan.

Dua poin di atas hanya solusi gampang yang coba ditawarkan, jika kita mampu berbuat lebih, kenapa tidak? Mungkin kita bisa mencontoh Putu Wijaya yang ogah menulis jika mood-nya sedang baik, dan memaksa diri untuk menulis saat suasana hatinya tidak mendukung. Silakan pilih!

0 komentar

0 komentar

Kurcaci dan Raksasa

Di sebuah desa hiduplah tiga kurcaci yang bersaudara. Kurcaci pertama bernama Si Sulung, kurcaci kedua bernama Si Tengah, dan kurcaci ketiga bernama Si Bungsu.

Si Sulung mempunyai sifat sombong, jahat, dan rakus. Begitu pula sifat Si Tengah, sama dengan kakaknya. Tetapi, sifat Si Bungsu berbeda dengan dua kakaknya, ia baik hati dan penolong.

Pada suatu hari. “Bungsu, cepat dong masaknya. Kakak sudah laper, nih!” kata Si Sulung sambil marah-marah pada adiknya.

“Iya, Kak,” jawab Si Bungsu menuruti perintah kakaknya.

Siang itu Si Bungsu sedang mencuci bajunya dan baju kakaknya di sungai. Si Bungsu memang sudah terbiasa untuk menuruti perintah kakaknya yang pemalas. Setelah selesai, Si Bungsu pulang.

Dalam perjalanan pulang, Si Bungsu mendengar sesuatu dari dalam goa. “Ssst, sepertinya aku mempunyai bahan untuk kita malam, hahaha….” Suara itu terdengar jelas di telinga Si Bungsu.

Ternyata yang dimaksud ‘bahan makan malam’ adalah tiga kurcaci bersaudara. Ketiganya akan dimakan oleh dua raksasa goa.

Setibanya di rumah, Si Bungsu menjelaskan apa yang dia alami tadi saat pulang mencuci. Tetapi kedua kakak Si Bungsu malah menertawainya. Si Bungsu tidak mau menjadi santapan makan malam kedua raksasa tersebut, sehingga ia pergi dari rumah setelah memasak makan siang untuk dirinya dan kakaknya. Lalu Si Bungsu mengemasi barang untuk dibawanya pergi dari rumah.

Ternyata benar, malamnya kedua raksasa itu datang dan menghancurkan rumah si tiga bersaudara.

Akhirnya, sejak saat itu Si Sulung dan Si Tengah tidak pernah terlihat lagi. Dan Si Bungsu telah menemukan rumah ajaib yang bisa mengabulkan semua permintaan Si Bungsu.


Aisy
(Siswa Sekolah Menulis ‘Aifah, Kelas Fiksi SD. Duduk di kelas 3 SDIT Nurul Ilmi)

0 komentar

0 komentar

Zahra Melihat Hantu

BRRAAAK!!! Zahra membanting pintu dengan keras. Dia sedang kesal dengan temannya karena temannya mengambil pensil merah muda kesayangannya.

Kemudian Zahra teringat pesan gurunya, jika merasa kesal, berwudhulah. Dan kebetulan Zahra belum shalat. Akhirnya Zahra berwudhu dan shalat.

Selesai shalat, Zahra menggantung mukenanya di belakang pintu. Tiba-tiba mati lampu, Zahra sangat ketakutan.

Tak lama kemudian, Zahra ingin ke kamar mandi. Dengan kaki gemetar, Zahra melangkahkan kaki menuju pintu. Tiba-tiba Zahra melihat hantu. Zahra tidak tahan lagi lalu Zahra ngompol. Kemudian lampu menyala kembali. Ternyata itu mukenanya sendiri.


Aisy

0 komentar

0 komentar

DIPA YANG MERAWAT ADIKNYA DENGAN PENUH CINTA

Dipa bermain hanya setiap hari Minggu. Karena di hari lain dia terus belajar, belajar dan belajar. Tapi, walaupun begitu, Dipa masih bisa bermain dengan adiknya. Suatu hari, adik Dipa yang bernama Faiz sakit malaria, Dipa sedih sekali karena adiknya sakit. Akhirnya Faiz masuk rumah sakit. Selama di rumah sakit Dipa-lah yang selalu merawat Faiz. Saat Bunda dan Ayah pergi ke kantin untuk membeli makanan, Dipa jugalah yang menjaga Faiz. Saat Faiz terbangun, Dipa-lah yang menghibur dan menyemangati Faiz.

Bunda dan Ayah senang sekali yang melihat Difa yang menjaga Faiz dengan penuh cinta. Faiz juga senang dengan hiburan yang Dipa berikan. Setelah 2 bulan dirawat di Rumah Sakit, akhirnya Faiz keluar juga. Bunda, Ayah dan Faiz sangat berterimakasih dengan kelakuan Dipa. Dipa senang sekali dengan pujian yang diberikan oleh orangtua dan adiknya.

*kalo dak salah cerpen Rifqi kolaborasi dengan Fatima:)

0 komentar

0 komentar

cerpen unik

Gank
Oleh: Syahril Latif

1
Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. Sebuah gang sempit yang tak berarti, sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata, seperti Taman Mini, Monas, Dunia Fantasi Ancol, Hotel Indonesia, dan lain sebagainya. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya, di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan.
Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k, sehingga menjadi Gank. Tak tahu siapa yang mengubahnya. Tapi semua orang seperti sudah maklum, dapat menduganya, siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami.
Belakangan, ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Namun, apa pun namanya, semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Kadang-kadang, untuk cepat dan mudahnya, oleh tukang, beca terutama, disingkat saja menjadi Gang Jalil.
Apalah arti sebuah nama.

2
Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. Di sana, di jalanan yang sempit itu, anak-anak bermain gundu, main bola kaki, berkejaran, main layangan, main petak-umpet, main galasin. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masak-masakan, main congklak, atau melompat-lompat main engklek. Dan apabila ada mobil lewat, yang terpaksa merayap pelan bagai keong, anak-anak menyibak ke tepi. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan, setelah mobil berlalu. Seakan, seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut.

3
Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku, yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi, sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil.

4
Rata-rata, semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain.

5
Sebagai gambaran kemiskinan, rumah-rumah, kami pun sederhana, berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya.
Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman, membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel, yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung, bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?”
“Itu rumah pegawai pajak,” begitu kami selalu menjelaskan.
“Pantas!” jawab mereka. Dan tanya lagi, “Yang di sebelahnya?”
“Rumah pegawai Bea Cukai.”
“Lebih pantas lagi,” kata mereka, dan tanya lagi, “Yang di seberangnya?”
“Itu mah, pegawai negeri biasa saja.”
“Kok sama hebatnya?”
“Maklum, menjabat bagian basah.”
“Bagian apa?”
“Tau, dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. Tak tahulah. Kok, ngurus hal orang lain, sih?

6
Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu, tukang kayu, montir, kenek, pedagang kaki lima, penjual nasi Padang dan Tegal, tukang cukur, guru sekolah, dosen, pelayan toko, sopir, makelar, satpam, tukang listrik, pegawai negeri dan swasta, bidan, perawat dan lain sebagainya.

7
Jika lagi kehabisan, ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya mesin jahit. Dan andaikata ada pompa air yang rusak, atau listrik yang korsleting, tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan.

8
Sesekali, ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. Biasanya, soal anak-anak, yang berantem. Anehnya, sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut, anak-anak mereka sudah berbaikan kembali.

9
Kurasa gang kami tak pernah sepi. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel, teriakan anak-anak bermain, teriakan penjaja sayuran dan makanan. Dan lepas tengah hari, di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta, terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah:
“Aanakum, Ainakum, Iinakum, Aunakum, Uunakum, Baanakum, Bainakum, Biinakum, Baunakum, Buunakum, Taanakum, Tainakum, Tiinakum, Taunakum, Tuunakum, Tsaanakum, Tsainakum, Tsiinakum, Tsaunakum, Tsuunakum ....”
Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas, mengasyikkan, mengantar kantuk, melayang jauh dihantar angin siang.

10
Apa saja yang dimasak tetangga, tak bisa dirahasiakan. Aromanya akan mengambang ke mana-mana, ke sepanjang gang. Yang paling cepat ketahuan, kalau ibumu menggoreng ikan asin. Yang ini, sungguh menitikkan air liur.

11
Lepas Isya dan makan malam, boleh dikata selalu ada permainan domino, lebih terkenal: gaple, di luar pekarangan rumah. Pada malam minggu, bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Atau juga, begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Tak tahulah.

12
Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa, sekali sebulan pada petang Jumat, orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. Kami yang muda-muda, sebagai basa-basi, ikut hadir. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka.
Di tengah pengajian sedang berlangsung, ayah-ayah kami pada mengantuk. Heran, kalau main gaple semalam suntuk, mata itu bisa melotot terus sampai pagi, ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. Menurut Ustadz Malik, setengah melucu, setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian, tanda setan sedang mengencinginya!”
Tiba-tiba, semua membuka matanya lebar-lebar, sedikit kaget dan lantas tertawa. Menertawakan siapa?

13
Jika yang tua-tua senang gaple, kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul, menyanyi dan main gitar, persis pengamen jalanan. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Kami menyebutnya ‘markas’.
Semua jenis lagu kami senang, mulai dari dangdut, pop sampai keroncong. Tapi yang mendapat tempat di hati kami, agaknya dangdut dan pop itulah. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa, atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya, tapi tak kena: sumbang, dan yang lain segera menyorakinya. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus.

14
Sekali-sekali, anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami, tak sampai larut. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. Atau disusul adiknya disuruh pulang.

15
Bagiku, semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah, Martin, Najib, Tony Handoko dan beberapa anak tertentu.
Usia kami tak jauh beda, hampir sebaya. Dulu ketika masih kecil, kami sering berantem. Sekarang tidak, kami saling menjaga, saling menenggang. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain.

16
Hamzah gitaris andalan kami, sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. “Inggris, ni yee?!” ejek anak-anak.
“Maklum, deh,” tambah yang lain.
Tapi Hamzah tidak marah. Tak acuh.
Dan sekarang, bacaannya bukan komik lagi, bukan cerita silat lagi. Pokoknya, berat, deh! Bayangin, kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya, kalian tahu, dia sedang baca apa?
George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot!
Pokoknya: berat!

17
Kalau si Martin lain lagi. Sejak jadi pemain teater, gayanya overacting. Selangit. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. Di situlah ia bercokol.
Gaya bicaranya, gerak tangan, jalannya, cara tersenyum, ekspresi wajah dan lain sebagainya, kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. Gayanya mirip-mirip Rendra, maunya.
Kalau ia bicara, seakan ia jauh dari kita, nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Kami tak tahu pasti, apakah dia masih bisa berbisik.
Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa.
Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM, disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain!

18
Kukira, si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. Itu, Najib anak Ustadz Malik, guru ngaji di gang kami. Soalnya setelah gagal sipenmaru, benar-benar ia putus sekolah. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta, ia tahu diri, tak mungkin, biaya kuliah terlalu tinggi, di luar jangkauan.
Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. Masuk kantor keluar kantor. Akan hasil perburuannya itu, bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah tahu jalan ceritanya, tentu kau sudah dapat menebak. Tapi Allah memang Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang, akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya, kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. Pokoknya, kerja. Apakah ia suka atau tidak.
Nah, bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib, menguji keimanannya. Agaknya ia kalah. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub, rumah minum. Artinya, setelah Najib ditest, kemudian ikut training untuk jadi Bartender, Najib mulai bekerja di sana.
Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. Siang hari ia tidur, seperti musang.
Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Yang ia tahu, sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya, Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. “Jangan lupa shalat,” pesan ayahnya.
Jelas Najib berbohong. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Bekerja di bar itu dosa. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Lingkungannya tak memungkinkan, dan di mana mau shalat, dan tak ada tempo, dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya.
Sebenarnya, Najib merasa sangat terhimpit, tapi dilakoninya terus. Sampai kapan?
Dan kami, dan semua orang di gang, merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya.

19
Sebaliknya, siapa sangka, jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya, Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu, anak pegawai pajak yang gedongan itu, bersike-ras pada papanya mau masuk pesantren. Ketika hal itu disampaikan, bukan main kagetnya sang papa, bagaikan disambar petir di siang bolong. Kaget, heran, berang, bingung, tak alang kepalang.
Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan, bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo, atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila.
Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan, Tony bungkem, merunduk terus, tak membantah sepatah pun, sampai papanya reda dan terhenyak di kursi.
Beberapa hari kemudian, kami, Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur, ke Pesantren Bangil. Tony memintaku. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai, pimpinan pesantren itu.

20
Sehari setelah keberangkatan Tony, papanya jatuh sakit. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima, pada hari ketiga, dari ibu Tony. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. Tapi Tony tak mau. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya, kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Papa memang selalu begitu. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut.”
Aku mencoba melunakkan hatinya, “Toh tidak apa pulang buat sebentar, bukan?”
“Tidak sekarang,” jawabnya pasti. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. Coba, Ma, saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? .... Dalam batin, saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu ... seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi, martabat, kesenangan ... tapi miskin rohani. Dunia, dunia dan kesenangan melulu.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu, hanya mencari kesenangan dunia…. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!”
Tony menarik nafas panjang, nampak kesal. Dan katanya: “Coba fikir, masak papa tega menuduh saya subversif. Ikut pengajian gelap, pengajian subversif, pengajian yang disusupi faham komunis. Jelas ini fitnah! .... Ya, Allah. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib, agar semua kami ditangkap, guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah.
Kini, kulihat air matanya menggenang, hampir menangis.
Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa, menjadi anak durhaka, hampir saya tidak bisa memaafkan papa. Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia

21
Sebenarnya, yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Ada lagi. Kau lihatlah si Aisah, teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu), teman kami juga. Nah, Aisah yang satu ini, sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang, tak lain tak bukan, itu kata lain dari pada kerudung). Dan kesan pertama kita melihatnya, persis seperti kaum wanita pasidaran Iran, anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini, sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir, pimpinan Imam Hassan Al-Banna. Tapi, apa pun namanya, menurut Ustadz Malik, “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya.”
Pakaian yang menutup aurat. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran, surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai, Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, istri-istri orang mu'min. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, agar mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r.a.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya), maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma, wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini,” dan beliau me-nunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya.
Sebenarnya, masih ada beberapa ayat dan hadis, tapi Saudara-saudara dapat menca-rinya sendiri dalam Al-Quran, misalnya pada An Nur ayat 31, Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad!
Pokoknya, sejak Aisah menjadi eskrim, maaf, ekstrim itu, di mana saja, kapan saja, ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng, menjulukinya dengan “pakaian ninja”. Tapi Aisah tak acuh saja.
Dan sejak itu, kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. Kayaknya semua pakaian rok, blus yang dulu, baik yang maxi, midi, apalagi mini, sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami).
“Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan, barangkali, Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya.
“Itu namanya, sama saja kita membagi dosa kepada yang lain,” jawabnya. “Menyuruh orang membuka aurat, ia berdosa dan aku pun berdosa. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah, dan dosa yang dilakukan orang itu.”
“Kau ini aneh, Aisah,” kataku pula. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis, perancang busana.... Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?”
“Lupakanlah itu,” katanya. “Itu waktu saya masih jahiliyah. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah, siapa yang mau saja. Rezeki di tangan Allah.”
Mantap sekali ia, fikirku.
Aisah boleh bermantap-mantap. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. Gara-gara pakaian jilbab itulah, Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Oleh kepala sekolah, ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah, walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). Namun ia tetap dianggap melanggar. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu, baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu!
Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali, lisan dan tulisan, dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. Aku tak tahu bagaimana kesudah-annya. Yang kutahu Aisah tetap tegar. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang.
“Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh, hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2, bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper-cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah, mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Se-kolah?!”
“Jelas UUD 45, dong,” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. Dan bertepuk tangan serempak.
Aisah melanjutkan: “Itu tuh, kalau mau ditertibkan juga, tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu, yang terlibat narkotik itu, yang mabuk-mabukan itu, yang merokok itu, yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi, ini enggak ge-er, ya (senyum, aduh manisnya)....”
Lagi-lagi kami keplok, senang sekali. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok... plok plok plok... plok plok plok plok plok plok plok. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka.
Rupanya Aisah belum selesai, belum merasa puas, katanya sambil setengah berbisik, mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI, ‘kali. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?”
“Ya, ‘kali,” celetuk kami, membenarkan.
Mengembangkan kedua tangannya, mengangkat bahu, Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan, tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya, pengamalannya kita jegal. Kita curiga dengan berbagai prasangka. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?”
“Munafiiiik...!” teriak anak-anak serempak.
“PKIiiiiiiii...!” tambah kami lagi.

22
Di mana pun, dasar anak-anak, suka becanda, suka menggoda. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’, tak pernah luput ia jadi godaan. Begitu ia lewat, anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop, segera mengalihkan iramanya ke kasidahan:
“Indung-indung kepala lindung
Hujan di udik di sini mendung
Anak siapa pakai kerudung
Mata melirik kaki kesandung...”
Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. Mungkin, dalam hati masing-masing kami, berkata: “Alangkah manisnya anak ini...?”

23
Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil, kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan, mengitarinya seakan hendak memangsa, persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang.
“Waduh, alimnya.”
“Sorangan wae?”
“Mari, gue anterin, yuk?”
“Ntar lu digampar bokapnya!”
“Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em.”
Dan macam-macam lagi.
Namun Aisah diam saja. Jalan terus.
“Wah, kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. “Ucapin salam dulu, dong.”
“O ya lupa, assalamu'alaikum, Neng?”
Dengan lembut Aisah menjawab, “Wa'alaikum salam.”
Anak-anak pada sorak kegirangan.
Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi, buru-buru aku keluar, kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Aku berhasil. Mereka menyingkir secara teratur. Sekilas kudengar.
“Ada cowoknya, Mek!”
Lalu kutarik Aisah ke toko kaset.
“Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku.
“Tidak.”
“Anak-anak berengsek!”
“Mereka cuma iseng.”
“Kurang ajar,” kataku, geram. “Tapi, ya ampun, kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?”
“Kasih hati bagaimana?”
“Salam mereka kau jawab. Cuekin aja!”
“Dosa lho, salam tak dijawab. Bukankah salam itu doa, yang artinya selamat dan sejahteralah anda. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula.”
“Ya, ampun...,” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini.

24
Lain Aisah, lain pula Maryam. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan, masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya, main engklek, main loncat karet, tiba-tiba seperti disunglap, dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya.
Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Sejak itu ia dikenal secara luas. Semua orang kagum padanya. Bukan pada nyanyian, melainkan kecantikannya yang membius itu.
Maka sejak itu, kami tak merasa heran, kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. Di lain waktu, ada lagi yang mengajaknya pergi menonton, ke restoran, dan macam-macam acara lain. Dan, selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota, pemain film yang sedang in, anak teater yang lagi ngepop, pemain tenis yang lagi ngetop.... Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. Pokoknya selalu dengan cowok baru!
Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’, maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan:
“Baru lagi, ni yee?!”

25
Maryam memang cantik. Yang tercantik di gang kami. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini, demikian menurut Hamzah.
Kukira, Hamzah menaruh hati pada Maryam. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang.
“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’,” kata Hamzah pula, berfilsafat. Kali ini tampak serius dengan muka murung.
Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu, aku tak tahu.

26
Suatu hari, berani-berani takut, kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam.
“Tidak!” jawabnya tegas.
Aku terperangah.

27
Tapi akhimya aku tahu juga, mungkin anak-anak lain tidak, ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate, yang ber-Baby Benz itu, Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Indekos di sebuah kamar yang seder-hana. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah.
Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi, seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang, yang tak mungkin dapat diraih kembali.

28
Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. Maryam seorang anak yang baik, seorang anak yang patuh. Dan terlebih dari semua itu, ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Untuk itu ia siap berkorban. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah, membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan.

29
Akhir-akhir ini, aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah, yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen, tempat di mana ia melarikan kepedihannya.
Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Nun jauh di desa Bangil, terpencil, jauh dari keramaian kota.
Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya, sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. Batinnya tertekan. Namun ia tak bisa berbuat lain.
Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang.
Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri.

30
Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu, apakah kau tak merasa malu, nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula, ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan.”

31
Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan, aku selalu lewat di depan ‘markas’. Ramainya masih seperti biasa. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib, Tony Handoko, Martin dan Hamzah. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi, tertekan sedikit oleh perasaan rindu.***

(Dimuat dalam Horison, Agustus 1990)

0 komentar

ji oke, kompas no:(

dapat imel dr kompas, tanpa berpanjang2 redaksi bilang cerpenku dikembalikan. santai... ini kan bukan yg pertama kali, nikmati aja! apalagi tu cerpen diterima kok di ji, biar kelas lokal yg penting gak nganggur di harddisk. kata kompas, cerpenku kependekan (menyimpulkan sendiri dr susunan kalimat imel mereka)



LUKISAN
Syarifah Lestari

“Aku berhasil melukis wajah setan,” Wilson setengah berbisik mengabari tetangga kosnya, Dadang.

“Kemarin kamera HP-mu menangkap bayangan tuyul, sebelumnya ada cekikik kuntilanak di rekaman radio. Tapi semuanya kemudian hilang, dan itu katamu, tanpa bisa kulihat buktinya,” Dadang melengos.

“Aku tidak berbohong, bagaimana membuktikan sesuatu yang sudah pergi. Sekarang lukisan itu ada di kamarku, ayo kita lihat biar kau percaya.”

“Dari mana kau mendapatkan wajah setan?” Dadang ragu, tak rela ia habiskan waktu hanya untuk menuruti bual Wilson.

“Dari televisi, kurekam wajah mereka di kepalaku.”

Akhirnya Dadang menurut saja, karena tangannya digandeng kuat oleh Wilson. Memasuki kamar paling ujung, yang jika pintunya dibuka, aneka aroma tajam akan menguar ke segala arah.

“Ini lukisannya,” Wilson memamer bangga karya seni di tangannya. Setan, demikian judul yang tertulis di sudut kanan atas lukisan.

Sementara Dadang menahan tawa yang mengguncang badannya.

“Percaya atau tidak, tadi ketika aku akan menjemputmu, setan ini sedang melirik ke bawah. Padahal aku membuatnya mendongak. Sekarang ia seperti berpose formal sejak kita datang.”
Guncangan Dadang makin kuat.

“Sebenarnya aku ingin menjual lukisan ini, tapi aku khawatir pembelinya akan marah.”

“Tentu saja marah, tapi itu jika ada yang bersedia membeli.” Dadang berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa, sebab Wilson nampak begitu serius.

“Jika setan ini pergi, seperti tuyul di HP dan kuntilanak di radio, maka kanvas kosong itu akan menjadi alasan pembeli untuk memakiku.”

Meledaklah tawa Dadang yang sudah tak lagi tertahan.

“Kenapa kau tertawa?”

“Begini saja, biar kubeli lukisanmu. Dan aku berjanji, tidak akan marah jika nanti kanvasnya tiba-tiba kosong.” Mata Dadang berair, kegelian terus membekapnya.

“Benarkah? Kujual seratus ribu saja.”
Dadang langsung menggeleng. “Tidak lebih dari dua puluh lima ribu.”

“Itu hanya harga bingkainya, Kawan!”

“Tiga puluh.”

“Kau tidak menghargai kreativitas, kau tak tau keindahan. Ini sebuah mahakarya, tak mungkin harganya hanya seperlima dari pigura sederhana ini,” Wilson tak terima.

“Baiklah, kuhargai sama. Jadi lima puluh. Jika naik lagi, tidak usah saja.” Dadang hendak keluar kamar, mulai berkurang semangat tertawanya.

“Oke, hanya karena kita satu kos!” Wilson menyerahkan lukisan di tangannya perlahan, sangat hati-hati.

“Uangnya besok, setelah aku gajian.”
Wilson mendengus. Sepergi Dadang dengan lukisannya, Wilson membentang kanvas baru.
***

“Ini lukisan wajah setan yang kedua,” pamer Wilson pada kenalan barunya, seorang perempuan lima puluhan yang ditinggal anak dan suami, lalu mengontrak di salah satu kamar kos. “Lukisan pertama dibeli Dadang, yang tinggal nomor tiga dari sini.”

“Untuk apa ia membeli lukisan begini?” perempuan itu berkacak.

“Ini seni, seni yang ghaib. Aku sebenarnya tak ingin menjual, khawatir pembeli akan marah.”

“Kurasa bukan pembelinya yang marah, tapi mungkin istrinya, anaknya, atau siapa saja yang lebih membutuhkan uang yang ia gunakan untuk membayarmu.”

“Dadang belum bayar. Tapi kuharap ia memegang janjinya untuk tetap membayar, walaupun nanti kanvas lukisan itu kosong.”

“Bagaimana bisa, kanvas yang sudah dilukis menjadi kosong?”

“Aku tidak bisa menjelaskan, sebagaimana kau tak akan percaya jika kubilang tadi wajah ini kubuat tersenyum. Sekarang ia menyeringai, padahal aku tak suka ekspresi seperti itu.”

Perempuan di samping Wilson nyaris tersedak mendengar ungkapan kawan barunya. “Untuk apa uang hasil penjualan itu nantinya kau gunakan?”

“Ya untuk makan. Apa lagi memangnya? Aku tak punya siapa-siapa untuk dibiayai.”
Si perempuan manggut-manggut. “Kau mau kukirimi makanan setiap hari? Tidak usah bayar, anggap saja aku kakakmu.”

“Terima kasih,” wajah Wilson berseri-seri. “Lukisan ini akan kupajang di kamarmu.”

“Tidak perlu. Aku sama sepertimu, tak punya siapa-siapa. Aku tak ingin orang yang masuk kamarku mengira itu lukisan salah satu keluargaku.”

“Berarti kau tidak menghargaiku. Aku tidak ingin makanan gratis, aku bukan peminta-minta,” Wilson merajuk.

Perempuan itu diam sesaat. Mendekat ia pada lukisan Wilson, melihatnya lebih seksama. Mata pada wajah lukisan itu berkedip. Badan si perempuan refleks tertolak ke belakang, ia mengucek mata, lalu menggeleng seperti bicara sendiri.

“Ia mengedipkan mata padamu, kan? Aku lihat itu.” Wilson membusungkan dada, menggagahkan sikap berdirinya.

“Gantunglah di kamarku, di bagian mana saja kau suka.”
Wilson segera beranjak dari tempatnya semula.
***

Dadang dan Perempuan penghuni baru saling pandang. Dahi keduanya mengernyit heran. Mereka berada di kamar perempuan itu.

“Aku sampai terbahak-bahak menertawakannya tanpa ia sadari, tapi benar saja ini terjadi. Kanvas lukisanku kosong, sama sepertimu.” Dadang mengerat dagunya dengan ujung telunjuk.

“Kuberi ia makan gratis tiap hari sekadar untuk berbagi, bukan menginginkan lukisan itu. Tapi benar katamu, apa-apa darinya yang kita pikir hanya bualan, nyata terjadi.”

Seseorang lewat, lalu melongok pada pintu kamar yang setengah terbuka. “Kalian kehilangan wajah di lukisan?” tanyanya setelah meyakini dua orang itu mengalami hal yang sama dengannya.

Keduanya mengangguk. “Kau juga?” tanya Dadang.

“Ya, lukisan yang kubeli dari Wilson,” laki-laki itu menjawab.

Dadang dan Perempuan penghuni baru saling pandang lagi. Lalu bertiga mereka menuju kamar Wilson, tapi seperti dua hari sebelumnya, kamar itu masih kosong. Wilson pergi entah ke mana.

“Kapan kiranya orang aneh itu pulang?” tanya kawan kos Dadang yang tadi baru saja bergabung.
Dadang mengangkat bahu tanpa bersuara. Kawannya menoleh pada perempuan lima puluhan, yang dilihat berlaku sama.

Satu per satu mereka kemudian mengintip lubang kunci, lalu ketiganya terperangah bergantian. Saling pandang, melongo. Sampai kemudian orang-orang berdatangan, bukan hanya para penghuni kos. Pemiliki kos-an, Pak RT, tetangga kos, tamu yang rajin bertandang, semuanya bergantian mengintip lubang kunci lalu terperangah. Semuanya telah membeli lukisan dari Wilson.

Atas izin pemilik kos-an, pintu kamar didobrak, semua orang mengucek mata. Wajah-wajah di lukisan mereka semuanya berpindah ke dinding kamar Wilson yang semula putih polos. Wajah-wajah itu semuanya menyeringai. Ada wajah anggota DPR, para menteri, KPK, BIN, dan tokoh-tokoh pemerintahan lainnya.

Kemudian seseorang berseru, “lihat ke atas!”

Ketika semuanya mendongak, wajah seorang raja menyeringai di tengah plafon.


0 komentar

ADIT

CERPEN SANGAT LAMA.
CERPEN INI TERMASUK SALAH SATU PEMENANG DALAM LOMBA YANG DIADAKAN FORUS, DIIKLANIN DI ELKA SABILI, KATANYA DAPAT HADIAH DAN MO DIBUKUKAN. TAPI SAMPE DETIK INI... NIHIL MEN!! MAKANYA, JANGAN MAU JADI PENULIS!

Plak, buk… dug. Lalu, tung! Seseorang memukul kepala salah satu dari banyaknya pelajar yang sedang tawuran.
“Auw…!!” suara si penyelamat melengking panjang. Ketika yang lain bengong, ia berlari sekuat tenaga sambil membawa Fahri, ikhwan yang terjebak di antara dua kelompok pelajar yang saling serang. Fahri masih setengah sadar tapi langsung pingsan ketika mendengar suara orang yang memanggulnya. Seperti wanita, tapi terlalu ngebas!
***
Laki-laki menor dengan pakaian perempuan itu meletakkan tubuh Fahri perlahan di atas dipan, di dalam sebuah kamar sempit yang pengap. Deritan kayu dan papan dipan membuat Fahri sadar.
“Hello…,” sapa ramah si pemilik kamar, dan Fahri kembali pingsan.
“Gilingan! Dapet cowok cakep dari mana you?” tanya kawan sejenisnya yang baru saja masuk
“Ini temen eike dulu waktu es-em-pe, namanya Fahri.”
“Sumpe lo?”
“Emang eike ada tampang pembokis?”
“Tau ya, tapi kalo pembokat ada tuh!” lalu diteruskan dengan tawa yang aneh. “Ho…ho…ho….”
“Saya ada di mana?” Fahri memegangi pelipisnya yang memar.
“Eh udah….”
“Sst… you diem!” si penyelamat menarik sahabatnya yang hendak menyapa Fahri, “Plis ya, jangan pingsan lagi. Inget aku nggak?” tanyanya kemudian.
“Siapa, ya?” Fahri benar-benar keheranan.
“Aduh… ini Adit, yang dulu sering kamu traktir.”
“Biasanya Rika!” celetuk teman Adit.
“Aditya Azhar?” Fahri menebak.
“Cepek! Thanks God, you inget eike, sobat…,” Adit ingin memeluk Fahri tapi ditolak. “Eh, sori!” ia lalu memperbaiki dandanannya. “Yuk Ai, kita operasi,” Adit mengajak pergi rekannya.
Yang di panggil Ai mengangguk centil, “Yuuuk…!”
“Tunggu dulu, ini saya di mana?” Fahri mengejar keduanya.
“Di kamar aku , tunggu ya, aku cuma sebentar. Bye….”
Fahri hanya bengong, ia melongok melalui pintu. Orang-orang di luar terlihat aneh, dandanan mereka tidak seperti kebanyakan orang yang biasa Fahri temui. Ada yang bercelana sebelah panjang sebelah pendek, ada yang hanya mengenakan sport bra dengan stretch jeans, ada yang bertindik di mana-mana, dan rata-rata tubuh mereka dihiasi tato.
Bukan lingkungan yang baik, batin Fahri. Ia kembali ke kamar, tidak berani menampakkan diri di antara mereka. Ngeri.
Fahri melihat sekeliling, kamar itu sangat berbeda dengan kamarnya di rumah. Jangankan AC, jendela pun tidak ada. Lampu neon listrik tetap menyala di siang hari sebagai penerang. Kamar kecil itu hanya diisi sebuah dipan dan satu meja rias lengkap dengan kursinya. Tidak ada foto, lukisan dinding atau kaligrafi. Dinding-dinding kamar hanya dilapisi dengan koran-koran basi yang telah menguning, yang masih terbaca di antaranya memuat berita meninggalnya putri Diana bersama Dody Alfayet, lalu di lembar lain ada penjarahan disebabkan krisis moneter yang hingga kini masih melanda rakyat negeri ini (hanya rakyat!). Benar-benar basi. Dan ini benar-benar hanya sebuah kamar, bukan rumah! Mungkin kesatuan dari beberapa kamar yang saling menempel ini baru bisa dikatakan rumah, atau mungkin kamar susun meski tidak bertingkat.
Fahri kembali membuka pintu. Celingukan sambil berdoa semoga semua orang aneh tidak berada di luar sana. Doanya terkabul, secepat kilat Fahri keluar dan masuk kembali dengan muka dan anggota wudhu lainnya telah basah. Di kamar Adit tidak tersedia fasilitas wudhu, sebenarnya di luar pun tidak, hanya sebuah pancuran dari derigen bekas yang dilubangi bagian sudut bawahnya lalu disumpal dengan sepotong kayu kecil. Sebelumnya Fahri melihat seorang laki-laki gendut yang bertelanjang dada mencuci muka di sana, hanya mencuci muka.
Fahri menunaikan shalat Ashar.
“Dadaaah…,” suara yang tadi membuat Fahri pingsan. Adit pulang.
“Ntar kita-kita jemput, ya…,” suara yang lain.
Pintu terbuka dan sebuah wajah genit muncul. “Kamu blom makan kan, nih aku bawain nasi bungkus,” Adit menyodorkan sebuah kantong plastik hitam berisi nasi bungkus dan air. Fahri segera menyambut, lalu pura-pura sibuk dengan makanannya, sengaja menghindari pemandangan tidak menyenangkan di depan cermin. Adit sedang membersihkan wajahnya, mengeluarkan dua buah buntalan dari dada, lalu berganti pakaian.
“Gimana kabar kamu, Ri?” Adit menghampiri Fahri, kali ini dengan suara laki-laki biasa.
“Alhamdulillah, baik,” Fahri mengangkat wajah.
“Kamu mungkin nggak heran ngeliat aku seperti ini,” wajah Adit berubah sendu.
“Jelas aku heran.”
“Tapi dari dulu aku memang seperti anak perempuan.”
“Dan sampai sekarang kamu tetap laki-laki,” balas Fahri.
“Bukan laki-laki, tapi waria.”
Fahri diam. Suasana hening.
“Orang tuaku gak terima ngeliat aku begini, aku diusir!” Adit menghela napas, terasa berat. “Sori ya, aku gak sempat ngobatin kamu, aku sibuk.”
“Gak pa-pa, udah sembuh sendiri, kok.”
“Sudah kuliah, kan?” Adit tersenyum, berusaha terlihat bahagia.
“Iya,” Fahri menjawab singkat.
“Tampangnya ngirit sih, pantes digebukin anak es-em-a, dikira musuh, taunya mahasiswa.”
Fahri tertawa pelan, “Bisa aja kamu.”
Adit membaringkan tubuhnya di dipan yang langsung menjerit. Kreek…. “Kamu besok aja pulangnya, biar aku anter.”
“Sekarang aja, nanti umi cemas,” Fahri langsung menolak.
“Tapi aku capek, ntar malem mo ke luar lagi. Cari duit buat makan.”
“Tadi itu ngapain?”
“Ngamen.”
“Ntar malem….” Fahri menghentikan ucapannya, tidak jadi bertanya. Retorik.
“Biasalah, Ri, kerjaan banci. Jangan sok lugu, ah.” Adit membenamkan kepalanya pada bantal yang sudah tidak berbentuk bantal lagi, lembek.
“Tadi liat handphone-ku nggak, Dit?” tanya Fahri hati-hati.
Adit membuka perlahan bantalnya, “Maaf, tadi aku pingin balikin tapi dilarang sama temen-temen, katanya….”
“Ya udah, gak pa-pa,” Fahri memotong cepat.
***
Malam semakin tinggi, Adit masih tertidur. Fahri beberapa kali membangunkan, mengingatkannya untuk shalat tapi tidak berhasil. Sampai terdengar suara Ai dekaka memanggil, masih dari kejauhan.
“Hani bani bebi, Rikaku sayang… kluar dooong…!” Adit segera bangkit. Fahri keheranan. Ia berkali-kali membangunkan dengan jarak yang sangat dekat, Adit tetap bergeming, dan ketika Ai cs memanggilnya dari luar dengan jarak entah berapa kamar, teman lamanya itu langsung terjaga.
“Aku harus berangkat,” Adit menuju meja riasnya.
“Bisa nggak kali ini libur,” pinta Fahri.
“Nggak ada libur kalo masih butuh makan.”
“Aku ganti uang yang seharusnya kamu dapat malam ini.”
“Kamu bukannya mau make aku, kan?” Adit alias Rika melirik nakal pada Fahri.
“Bukan, bukan. Aku cuma nggak mau ditinggal sendiri di sini,” Fahri panik.
Adit tampak berpikir, tangan kanannya mengelus-elus pelan dagu yang tak berjenggot.
“Sori, Nek, eike gak bisa jalan malam ini, gak enak body, nih!” Adit kemudian beralasan pada teman-temannya yang baru sampai.
“Makasih,” Fahri menang. “Kamu tinggal sendirian di kamar ini?” tanyanya kemudian.
“Berdua dengan Rudi,” Adit kembali ke kamar dan menutup pintu.
“Siapa tuh?”
“Temen satu profesi.”
“Sekarang dia di mana?”
“Pulang kampung, bokapnya sakit. Dia sih enak, masih diterima keluarganya.”
“Kamu juga bisa begitu.”
“Klasik, asal tobat. Bener kan?” Adit mencibir.
“Emang klasik, tapi bukan cuma keluarga kamu yang menerima, seluruh dunia!”
Adit tercenung cukup lama, ia menatap Fahri dalam. “Kamu lebih beruntung, Ri.”
“Menurut siapa?” Fahri balik menatap Adit, “Keberuntungan nggak bisa dinilai dari segi duniawi, dunia hanya sementara. Hanya orang-orang bertakwa yang dianggap beruntung,” lanjutnya.
“Kamu nyambi jadi ustadz, ya?” canda Adit.
“Kamu mau kan jadi muridku, sebentaaar aja,” Fahri membalas.
“Setan! Gila…. Gak ada urusan kali tuh orang!” seorang waria tiba-tiba masuk tanpa permisi.
“Ada apa, Na?” tanya Adit terkejut.
“Ada razia, Nina diuber-uber sampe depan kuburan sana,” teman Adit mengadu manja. Fahri hanya menonton.
“Trus yang lain gimana?” Adit tampak cemas.
“Gak tau, tapi tadi Nina liat Ai ketangkep.”
Fahri dan Adit saling pandang
“Eh, kenalan, dong! Rika punya gebetan diumpetin aja,” Nina mengulurkan tangannya pada Fahri, Fahri membalas dengan dua telapak tangan yang dirapatkan ke dada. Adit cekikikan, Nina manyun, Fahri rada ketakutan.
“Oh ya, kita mesti pindah ke tempat lain, kabarnya tempat ini bakal digusur,” Nina menyampaikan kabar buruk dengan ekspresi biasa.
“Lagi-lagi begini,” Adit mengeluh. Nina segera pergi demi melihat suasana yang kurang menyenangkan.
“Kamu mau tinggal denganku?” Fahri memberi tawaran tak terduga setelah Nina tidak berada di antara mereka.
Adit menggeleng lemah, “Keluarga aku sendiri aja gak mau nerima, apalagi orang lain.”
“Ya nggak dengan dandanan seperti ini.”
“Kalau bisa berubah, aku lebih baik pulang.”
“Semua kan butuh proses, sampe tua juga kalo nggak diusahain gak bakal bisa.”
“Kamu yakin mau ngajak aku?”
“Banget!” jawab Fahri mantap.
“Aku nggak punya pakaian cowok.”
“Aku punya banyak.”
“Buat ke sananya?’
“Kita keluar, aku pulang duluan. Kamu tunggu aku di suatu tempat, nanti aku jemput.”
Keduanya lalu keluar tanpa membawa sesuatu pun dari kamar berukuran sangat kecil itu.
***
“Masya Allah! Kamu ke mana aja, Nak?” ibu Fahri memeluk anaknya yang belum sampai ke pintu rumah. Adit tidak menjawab.
“Mukanya kenapa?” ibu dan adik Fahri langsung bertanya saat lampu di ruang keluarga menerangi wajahnya yang lebam.
“Abi mana?” Fahri menyapu pandangan ke seluruh sisi ruangan tempat ia berdiri, ayahnya biasa menonton berita atau membaca koran di sana.
“Abi baru saja keluar, mau lapor polisi.” Farah, adik Fahri yang menjawab.
“Sekarang dalam perjalanan pulang, barusan Umi kasih tau kalau kamu sudah pulang,” ibunya melanjutkan.
“Tuh muka kenapa?” Farah masih penasaran.
“Ntar aja, tunggu Abi udah di rumah.” Fahri meninggalkan keduanya, menuju kamar. Kamar yang lebih baik dari kamar Adit.
Setelah sang ayah berada di rumah, Fahri menjelaskan kenapa ia baru pulang, di mana ia tinggal, dan siapa yang menyelamatkannya. Tapi, ia tidak menceritakan bahwa Adit, sahabat lawasnya itu adalah seorang waria. Abi membolehkan Adit tinggal bersama mereka, Fahri bahkan diminta secepatnya menjemput Adit yang diakuinya sebagai seorang penyemir sepatu yatim piatu.
“Ingat! Kamu laki-laki dan kapan pun akan tetap laki-laki,” pesan Fahri pada Adit dalam perjalanan di mobil Fahri. Adit hanya mengangguk. Dari jendela mobil ia melihat beberapa waria dan WTS kocar kacir diserbu petugas, hatinya getir. Ia ingin menolong, tapi….
“Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, tapi mulailah dari diri sendiri. Insya Allah di lain waktu kamu bisa menolong mereka,” hibur Fahri pada Adit yang mulai menangis.
Abi paling bersemangat dalam menerima Adit sebagai anggota baru. Beliau dengan rajin mengajari Adit segala hal, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrowi. Dari masalah akidah, tilawah, ekonomi, politik, hingga beladiri. Abi adalah pimpinan sebuah pesantren yang terjun ke berbagai bidang dan gigih memperluas dakwah. Fahri tentu senang dengan semua itu, hanya saja, ia sering kesal dengan kebiasaan Adit berkutat dengan mesin jahit. Mending kalau dibongkar, Adit malah membuatkan rok panjang untuk Farah! Untunglah umi tidak curiga. Di lain waktu kesalahan datang dari Fahri sendiri. Ia dengan sengaja meninggalkan Adit bersama Farah di dapur tanpa orang lain. Umi buru-buru menjadi orang ketiga sambil mengomel panjang pada Fahri. Fahri pucat, tapi ia bukan mencemaskan Farah dan Adit, melainkan Umi, jangan-jangan wanita lembut itu tahu, bahwa Adit punya ‘kelainan’.
Fahri hanya bisa mengandalkan doanya lalu bersusah payah menjauhkan Adit dari segala hal yang berbau perempuan. Adit dengan genitnya malah menggoda, “Awas Akhi, kita kan bukan mahrom!” ih.
***
Di suatu subuh, di mushalla rumah. Fahri mengimami shalat menggantikan Abi yang sedang ke luar kota. Tapi makmum Fahri hanya dua orang, umi dan Farah. Selesai berdoa, Fahri bertanya pada umi tentang Adit yang menghilang.
“Tadi malam ia berangkat bersama abi,” jawab umi datar.
“Emang apa hubungannya urusan abi dengan Adit?” Fahri khawatir kedok Adit terbongkar.
“Mana Umi tahu, pekan depan tanya aja langsung ke abi.”
“Pekan depan?” Fahri mendesah pelan disaksikan Farah.
“Kenapa, Kak?”
“Nggak ada apa-apa,” Fahri kembali berdoa. Umi dan Farah saling pandang.
“Bukannya tadi sudah selesai?”
“Au’,” Farah mengangkat bahu dan menarik ibunya ke luar mushalla.
Waktu satu pekan dirasa bagai sebulan oleh Fahri. Adit tidak mendapat anggaran untuk membeli handphone, menelepon abi? Fahri sangsi.
Tapi akhirnya waktu yang lama itu tiba juga. Jam 2 siang. Umi bilang, abi sampai di rumah usai makan siang.
“Gelisah amat sih, Kak?” Farah ikut menunggui abi di teras. Fahri bungkam.
“Jam lima sore ntar kan juga abis makan siang, jam delapan malam juga, jam satu pagi juga….”
Brum…. Belum lagi Farah menyelesaikan kalimatnya, Mobil abi tiba di depan pagar. Tanpa diklakson Fahri membuka lebar pagar, mempersilakan Terrano hitam itu masuk. Abi keluar dari mobil membawa koper coklat dan satu tas oleh-oleh untuk keluarganya. Sendirian tanpa Adit.
Fahri memeriksa dengan teliti, dipandanginya seisi mobil, garasi hingga pintu pagar. Adit tidak ditemukan.
Fahri tidak berani bertanya, pikirannya kacau. Abi, umi dan Farah tidak menyinggung soal Adit.
***
“Tidak tanya soal Adit, Ri?” tanya abi saat makan malam. Akhirnya.
“Nggak rindu, nih?” goda Farah.
“Kata umi pergi sama abi, Fahri kan percaya abi,” Fahri tampak kaku.
“Kalau kamu percaya sama abi, kenapa mesti bohong?” umi menatap Fahri yang mulai salah tingkah.
“Maksud Umi?”
“Begini, Nak,” Abi meneguk air putih di depannya, kemudian, “kamu kan tahu kalau Abi orang dakwah, bermacam-macam orang Abi temui di lapangan. Dari konglomerat, mafia, pecandu narkoba sampai gay dan lesbian. Memang tidak semuanya berhasil hijrah tapi Abi punya pengalaman tentang mereka, termasuk Adit.”
Fahri menunduk, piring kosong tempat ia menjatuhkan pandangan segera dibereskan Farah. Tidak ada satu pembantu pun di rumah itu.
“Dari gerak-geriknya, Abi tahu kalau Adit waria.”
“Lalu sekarang?” Fahri penasaran.
“Syukurlah kamu cepat membawanya kemari,” abi tersenyum.
“Adit sekarang di mana, Bi?” Fahri makin tidak sabar, tapi ia yakin ini adalah ending yang baik
“Di pondok.”
“Tinggal di asrama?” Fahri girang.
“Iya, sebelumnya Abi ingin langsung mengirimnya ke sana, tapi Abi takut dia kabur karena tidak betah, makanya Abi lakukan pendekatan dulu, dan ternyata tanpa diminta Adit lebih dulu meminta supaya Abi mendaftarkannya di sana.”
“Alhamdulillah…,” Fahri tersenyum lebar. Sangat bahagia.
“Kok nggak nanya alasan kak Adit ke pesantren?” Farah kembali ambil suara, seketika Fahri menyimpan senyum lebarnya.
“Kenapa, Bi?” gantian abi dan umi yang tersenyum, nyaris tertawa.
“Katanya… kalau di sini terus menerus, dia jadi naksir kamu.”
Telinga Fahri memerah, ditambah dengan pernyataan Farah yang meyakinkannya. “Suer! Ini beneran.”
***
“Kenapa bengong, Dit?” sapa Mahmud, teman baru Adit di pesantren al-Hidayah.
“Ternyata…, cowok di sini cakep-cakep!”
Gubrak! Mahmud pingsan, tapi Adit tidak membawanya ke kamar.

Kamar belakang, 4/3/05

2 komentar

DOWNLOAD BULETIN ANAK GRATIS!!!

mungkin bisa jadi inspirasi kawan2 untuk menulis, buletin sederhana berisi karya anak2 SDIT Nurul Ilmi Jambi. sila unduh di sini, gratis selamanya!

0 komentar

cerpenku yang jadul, estede, en kacau!

AKU PANTAS MENOLAKNYA

“Afwan ya, Dik. Kakak lupa bawa biodata ikhwan itu” Kak Imas benar-banar tampak menyesal, padahal aku tidak begitu penasaran. Kalau memang jodoh insya Allah ketemu juga.

“Gak pa-pa, Kak” jawabku seadanya

“Kok Sila nggak tanya ciri-cirinya, apa belum siap?”

“Insya Allah siap, Sila cuma nggak mau Kakak kelewat merasa bersalah gitu, hehe…. Oke, sekarang minta ciri-cirinya deh!”

“Tingginya seratus tujuh lima, berat tujuh puluh, kulit coklat…” Kak Imas berpikir sebentar untuk mengingat-ingat

“Tempat tanggal lahir…” kubantu beliau berpikir

“Jambi, dua tujuh Januari delapan dua”

“Kakak yakin?”

Kak Imas tidak segera menjawab, beliau menangkap kegelisahan di mataku. “Yakin, kenapa?”

Aku menggeleng pelan tanpa suara.

“Seingat Kakak, saat memberi taujih anti pernah bilang bahwa orang-orang di liqo’ adalah keluarga kedua”

Silakan berbagi susah dan senang, kira-kira begitulah terjemahan kalimat murabiku ini.

***

“Sori La, aku khilaf!” Edwin tertunduk pasrah

“Minta maaf emang gampang”

Cowok itu tetap bergeming

“Nggak usah khawatir, aku udah maafin kamu” aku berucap lembut, berusaha tetap tenang walau sebenarnya ada yang ingin kumuntahkan dari dada yang sering kali menyimpan kekesalan pada orang yang pernah kukasihi itu.

“Aku tahu, kamu selalu punya banyak persediaan maaf untukku” Edwin tersenyum lega

“Tapi itu yang terakhir kalinya kamu sakiti aku, karena hubungan kita cukup sampai di sini” kutinggalkan Edwin yang baru saja hendak menyentuh tanganku, ia terlihat syok.
“Sila…, Sila!”

Kubiarkan mantanku menggedor-gedor jendela taksi, dan sang supir pun terus melajukan sedannya.
Di dalam taksi aku bersenandung pelan menyanyikan beberapa nasyid bertema cinta, cinta sebenarnya kepada yang pantas untuk dicintai, waktu itu aku belum terbiasa berdzikir. Seorang teman akhwat yang mengetahui hobiku mendengar musik memberikan kado perpisahan berupa sebuah MP3 nasyid dan CD murottal dengan terjemahnya.

Seharusnya kuucapkan dulu terimakasih pada Edwin, yang karenanya aku benar-benar menyimak syair-syair dalam alunan nada-nada relijius pemberian Nasywa, teman akhwatku semasa SMA. Kalau tidak sedang patah hati akibat perbuatan Edwin yang untuk kesekian kalinya menduakanku, entah kapan aku bakal menikmati indahnya syair nasyid apalagi kalam Ilahi yang selama ini hanya kubaca tanpa tahu maknanya.

Alhamdulillah, aku bersyukur padaNya yang menuntunku ke kehidupan baru dalam cinta yang tak kenal patah hati dan berkumpul dengan orang-orang yang begitu ikhlas mengangkatku sebagai saudara meski kami tak satu kandungan.

***

“Ukhti yakin, nama ikhwan itu bukan Fadli?”
Abu Husein kemudian diam sejenak, lalu beliau memintaku membaca ulang biodata yang baru kemarin sampai ke tanganku.

“Namanya Edwin Bahtiar, walaupun punya saudara di Jakarta, dia lebih suka kos. Waktu Sila masih SMA dia kuliah di IKJ, entahlah kalau sekarang”

“Betul-betul tidak salah orang?”

“Ana juga punya foto itu, sepekan yang lalu dia kirim via imel” kuletakkan lagi biodata dan foto Edwin di atas meja lebar di depan kami.

“Akhi kecolongan” Kak Imas nimbrung, beliau yang mempertemukan aku dengan Abu Husein, murabi liqo’ ikhwan tempat Fadli alias Edwin mengaji.

“Kita tidak boleh su’uzhan, mungkin Fadli atau Edwin sungguh-sungguh ingin hijrah dan kebetulan Ukh Sila juga akhwat, lalu Edwin merasa sudah cukup kenal dan… ingin mengkhitbah”

“Ana kenal betul dengan Edwin, dia belum hijrah”

“Tahu dari mana?” Kak Imas memicing

“Dua hari lalu Sila lihat dia merokok dan satu mobil dengan teman cewek”

“Di mana?”

“Siapa tahu itu mahramnya”

Abu Husein dan Kak Imas berucap hampir bersamaan
“Pas lagi antre di tol Jagorawi, mobil yang Sila tumpangi bersebelahan dengan mobil Edwin, dan yang duduk di sebelahnya punya nama Virly, comblang kita dulu”

Abu Husein dan Kak Imas tak punya kata-kata lagi.
“Antum jangan panik, kita bisa cari solusi sama-sama” akhirnya Kak Imas bersuara kembali

“Bagaimana kalau masalah ini kita angkat dalam rapat ahad?” Abu Husein membuka agendanya

“Kenapa nggak?!”

***

Satu lagi surat dari Edwin di inboxku, entah bagaimana ekspresinya saat mengetik surat tersebut hingga aku tak bisa menerjemahkan maksudnya, ancamankah?

Apa dan bagaimanapun caranya, aku pasti mendapatkanmu.

Karena kamu tercipta hanya untukku.

Yang jelas, ia ingin melangkahi Rabbnya, Yang Maha Berkehendak.

0 komentar

MENJADI ANAK PENCURI

karya: Athifah

Namaku Alifa Rizki, aku biasa dipanggil Kiki. Di rumah aku menanyakan sesuatu pada Ibu, “Ibu, ayahku di mana? Mengapa kita nggak pernah ketemu Ayah?”

“Kiki, ayahmu sibuk, sampai-sampai tidak bisa bertemu denganmu, Nak,” jawab Ibu.

“Tapi Kiki tidak pernah bertemu Ayah,” kata Kiki sambil berlari menuju kamar.

Lalu ada yang mengetuk pintu rumah itu. Karena terkejut, Kiki lalu membukanya.

“Kamu siapa?” tanya Kiki kepada seorang lelaki tua yang di depannya.

“Ayahmu, Nak,” kata laki-laki tua itu.

Lalu Kiki langsung memeluknya, kemudian memanggil ibu, “Ibu, ada Ayah.”

Ibu langsung berlari menuju ruang tamu, lalu mengajak Ayah masuk ke kamarnya, lalu membaringkannya karena ia kelihatan kecapekan.

Sesudah makan malam, kami bertiga langsung sikat gigi dan tidur (karena bukan orang Islam).

Malam harinya Kiki mau pipis, Kiki langsung ke kamar mandi yang letaknya di dekat ruang tamu.

Saat di depan kamar mandi, Kiki nampak ada bayangan. Kiki lalu mendekatinya, rupanya itu ayahnya yang sedang memakai baju pencuri. Lalu ayah Kiki bilang kepada Kiki, “Kiki jangan bilang Ibu kalau Ayah pencuri.”

Kiki menyesal mempunyai ayah pencuri.


---
athifah adalah salah satu siswa lincah di kelas fiksi Sekolah Menulis 'Aifah. cerpen ini sudah bikin salah satu temannya, fatimah, ngakak seru karena sudut pandang tokoh yg berubah2. its ok, apa salahnya keliru, itu bagian dari proses. wong athifahnya aja keukeuh, "dak papalah, kan nama akunya kiki!" serunya berapi-api.
fatimah makin ngakak. aku sih milih mingkem

2 komentar

nulis cerpen dibayar

nah, ini nih yg menarik (sebagian) org2 buat bikin cerpen. gak masalah sih punya niat yg mengandung unsur matre', toh hidup emang butuh duit. masalahnya, kualitas karya kita pantes gak sih buat diduitin? makanya, berkarya aja trus, kirim2 ke tari84@ipal.com tar biar dikomen oleh para ahli dan penikmat cerpen (insyaallah kukirim ke imel2 penulis kelas menengah ke atas, kenalanku).

inilah proses, saatnya nanti, baru kita bisa ngomong duit untuk karya yg sdh "terukur". selamat nyari duit! eh, selamat nulis!

0 komentar

cerpen belum selesai


cerpen lama, pas rame2nya org pd nyaleg. sampe pohon2 pd bongkok nahan foto jelek mereka. pengennya disayembarain, siapa yg bisa nerusin dpt hadiah!


“Partaiku bikin harga-harga pada turun.”
“Dikerjain. Dulu juga harganya segitu, dinaikkan, lalu dikembalikan ke semula. Jadi orang-orang model kamu, bilang harganya turun!”
“Maksudnya orang-orang model kamu itu apa?”
Anto nyengir, tanpa menjawab.
“Kamu mau bilang, ini pembodohan? Strategi politik?” Maman melotot.
“Bayi juga tau, Man!” Anto mengibaskan handuknya. Lalu menuju kamar mandi setelah melihat Ayub keluar dari ruang kecil itu.
“Jangan lama-lama, To, nanti ada yang mau bagi-bagi sarung di lapangan sebelah!” teriak Maman mengingatkan.
“Besok kalau sudah dapat kursi, mereka akan bagi-bagi pulau, laut, hutan. Tapi dengan para bule, bukan kalian.” Byuur, disambung suara siraman air. Sengaja untuk menelan bantahan Maman dari luar. Padahal Maman hanya ingin bilang, makruh bicara di kamar mandi.
Para perantau yang jadi pekerja kasar itu, menempati bedeng temporer hasil bangun sendiri di sebelah proyek garapan mereka. Tak perlu tivi untuk mereka tahu kabar perpolitikan negri ini. Di depan mata mereka, terbentang jalan raya yang bercerita banyak. Lebih detail dari yang bisa diceritakan reporter media elektronik.
Di aspal dua arah itu, ada berbagai atribut partai sempal menyempal berebut lahan. Ayub menyebutnya sampah dari para sampah. Maman yang selalu optimis menganggap itu persaingan menguntungkan; ia bisa mengoleksi berbagai kaos dari bertabur acara gelaran para caleg. Anto, meski tak cukup sekolah—hanya sampai SMP—paling pandai melambung dan menghancurkan. Jika seseorang menghina sebuah partai, ia akan membela partai itu habis-habisan, meski tak kenal sebelah badan pun satu dari sekian caleg partai yang ia bela. Sebaliknya, jika ada yang memuji satu partai, maka dengan penuh semangat ia banting-banting harga diri partai tersebut, tak peduli di depan fungsionarisnya sekalipun.
***

“Caleg yang kau sebut beriman gara-gara jilbabnya itu, kulihat meramal nasib orang dengan sisa kopi!”
“Aku tidak menyebutnya beriman, tapi ia sendiri yang mengaku demikian. Kubaca di kalender pemberiannya.”
“Peduli apa dengan jilbab dan kopinya, yang penting ia berani modal. Daripada partai itu.” Maman mengarahkan telunjuknya pada satu reklame berisi foto orang berbaris. “Satu baliho untuk rame-rame, kalau keliling cuma bagi-bagi stiker.”
“Setuju.” Maman meninju udara di atasnya.
“Tapi stiker itu sering kulihat di daerah-daerah bencana.”
“Apa mereka partai kutukan, di mana-mana melahirkan bencana?”
Maman dan Ayub terkekeh bersamaan.
“Bodohnya kawanku. Mereka itu peduli kepada sesama.”
“Kecuali pada kita. Masak sudah bela-belain datang, cuma dikasih ceramah. Apa bisa kenyang??”
Terkekeh lagi.
“Tahu kan kalian, yang banyak mengeluarkan modal akan berusaha mati-matian menutup kembali modal mereka saat berkuasa?”
“Manusiawi, To. Pedagang saja tidak ada yang mau rugi.”
“Kalian pikir ini dagang?”
“Lalu apa lagi? Mereka datang, beri uang, sarung, kalender, baju, dan ditutup pesan: pilih saya!”
“Haha, bodoh lagi. Barang-barang tak lebih lima puluh ribu itu kalian bayar dengan lima tahun hidup dijajah. Tak cukupkah dijajah bangsa sendiri tiga puluh dua tahun itu?”
“Alah, bangsa sendiri ya tak masalah. Seagama lagi.”
“Partaimu partai kampret. Calegnya tidak punya perasaan, masak pohon dipaku!”
“Ya kalau tidak dipaku, lalu diapakan?”
“Jangan kamu yang mikir. Calegnya kamu suruh lahirkan ide. Untuk urusan remeh saja dia pilon, apalagi ngurusin rakyat!”

3 komentar

SEBAB CINTA


ini cerpenku yang gak laku. kelas koran lokal aja ditolak, daripada mubazir ide, mending pajang di sini toh!

Kupikir hanya orang-orang bodoh yang rela mati demi cinta. Di saat orang lain dengan tenang berganti-ganti pasangan, ada yang baku hantam, bahkan dengan dirinya sendiri, demi mempertahankan cinta. Kini, kebodohan itu mewabahi tiap sel tubuhku. Kebodohan paling bodoh dalam sejarah hidupku. Ketika saat ini, di pinggir jurang seram ini, aku ingin mati gara-gara cinta.
***
Aku menang! Teriakku hari itu. Laki-laki yang sebelah tangan kucintai berpisah dari kekasihnya. Akulah racun di antara mereka. Aku yang membunuh rasa itu dari hati laki-laki yang sejak dulu kuinginkan. Dia sahabatku dulu, yang hingga kini masih menganggapku sahabat. Bodoh, atau tak punya perasaan?
Hanya dua bulan setelah termakan berita fiktif dariku—yang mengakibatkan ia berpisah dari kekasih lamanya—, laki-laki itu telah berpasangan lagi. Tapi bukan denganku. Aku sama sekali tak menangis. Karena aku tidak bodoh. Saat itu.
Kini di pinggir mulut maut, aku tersedu-sedu. Apa ini? Di mana keadilan jika setiap hari aku hanya menyaksikan hal-hal menyakitkan. Kutatap lurus lintasan yang akan kulalui dalam menjemput maut. Nanti aku akan berteriak lantang, ambil nyawaku!
Airmataku deras, membuatku tak mampu lagi melihat ada apa di depan sana. Hanya kepalan tanganku merasakan dinginnya tanah hitam beserta rumput yang kucabik-cabik geram. Menyesalkan takdir yang tak pernah memihakku.
“Inilah hidup. Ketika kau mampu mendapatkan apa yang kau inginkan,” kata laki-laki itu suatu waktu. Kami tengah berdua, tanpa pacarnya. Tapi selama dua jam bersama itu, ia hanya menceritakan pacar barunya yang berhasil ia tarik hatinya dalam waktu sebulan saja. Dadaku bergemuruh, ada gerimis yang membadai di sana. Tapi mataku tetap berbinar. Aku tidak menangis.
“Kenapa perempuan gampang sekali ditaklukkan?” tanyanya padaku. Seringai angkuhnya kurasa bagai senyum magnetik yang melambungkan. Aku akui, pandanganku pasti keliru. Tapi kunikmati saja sambil menyeka sisa-sisa badai di hatiku.
“Perempuan memang lemah, tapi tidak sepatutnya kau perlakukan begitu.”
“Apa yang kulakukan?” tanyanya lagi.
“Kau melambungkan hati seseorang, lalu menghempaskannya. Dan kau pun tak peduli pada orang-orang di sekitar yang benar-benar mengharapkanmu.”
“Semua orang memang mengharapkanku, tapi aku tentu tak bisa jadi milik semua orang. Aku adalah aku, milikku sendiri. Aku yang paling berhak menentukan dengan siapa aku menempatkan diri.”
Dia benar. Dan aku hanya diam, yang seolah mengiyakan. Pilu memang. Tapi aku bahkan tak pernah meneteskan sebutir airmata pun di hadapannya.
“Kau sahabat terbaikku, kau yang paling mengerti aku,” lanjutnya seraya melingkarkan lengannya di pundakku. Aku bisu.
Kabur di mataku perlahan memudar, meski kurasa, ada sembab yang muncul mengitari lingkar dua mataku. Batas pandangku merapat, seperti ada tarikan yang menyebabkannya. Kudengar isakku sendiri di antara hening yang sejak tadi membersamaiku tanpa peduli. Kuseka air yang membasahi bawah hidungku. Kurasakan dahsyatnya sakit sebab cinta.
Menit ke menit berlalu. Kurapatkan mata, menikmati detik-detik akhir usiaku. Suasana masih hening. Hingga isakku reda, pandanganku masih gelap tanpa latar suara.
Semua diam. Semua hitam. Tapi kemudian, kulihat kilatan cahaya, ada suara-suara berteriak memilukan. Nun jauh di sana, ada api membara. Di dalamnya kusaksikan orang-orang dipaksa menggorok lehernya berulang-ulang, atau memasukkan racun ke dalam mulutnya, atau memutus urat nadinya, atau menembak kepalanya. Mereka tidak hidup dan tidak mati. Mereka meraung, tapi tangannya tak terkendali. Mereka melakukannya terus-menerus. Kulihat seorang perempuan melompati jurang, tergeletak menggelepar, badannya hancur, lalu kembali semula. Kemudian ia melompat lagi, menggelepar lagi, hancur, utuh, lalu melompat lagi.
Kupaksa membuka mata!
Napasku turun naik begitu cepat. Ini jauh lebih menyakitkan dari sekadar luka cinta. Kuedar pandangan, menyapu sekeliling. Tak seorang pun di sini. Tak ada yang bisa mencegahku mengakhiri niat yang tinggal seinci. Tapi aku merasa ada yang mengawasi. Hingga kakiku refleks mundur dari bibir jurang. Tiba-tiba aku takut mati.
Aku berlari menjauhi tempat yang sejak kemarin kutuju. Tak lagi mengingat apa itu cinta, betapa pun sakitnya. Aku lupa pada laki-laki itu, pada kekasihnya, pada senyumnya.
Dalam langkah dan lompat cepatku, beban-beban yang tadi kubawa seolah lepas temali. Jatuh berkeping-keping, lalu menggantikanku mengarungi jurang. Aku masih berlari, hingga sisa air di mataku menguap diambil alih udara, bahkan tanpa menyisakan secuil warna merah pun. Aku merasa seperti menjauhi sesuatu dan mendekat pada sesuatu yang lain. Aku tidak melarikan diri dari maut, tapi hendak mempersiapkan diri hingga ia datang nanti.
Makin jauh aku dari jurang itu, makin ringan kurasa. Kakiku enteng melayang, punggungku seolah kian tegap setelah tadi terbungkuk-bungkuk menahan beban. Aku datang, aku datang, entah pada siapa kukatakan itu. Aku terus berlari, menjauh. Kurasa ada senyum yang tersungging tanpa kusengaja.
Kurasakan jalar kebodohan bertolak balik, akalku menyempurna kembali. Dan ketika kakiku mantap berhenti, kukatakan pada diriku, aku hanya perlu menangis. Tapi tidak di sini.